Thursday, 28 January 2016
RIANA
Di hadapkan pada suatu pilihan terkadang terasa sulit, apalagi menyangkut soal hati. Hati selalu ingin diperlakukan dengan sangat hati-hati agar tidak melibatkan air mata. Dan andalan seorang wanita, ya air mata. Smakin membasahi pipi smakin melegakan perasaan.
"Aku Riana...tidak suka dengan air mata tapi air mata selalu saja setia hadir saat masalah datang menghampiriku. Cepat-cepat kuseka air mataku kalau mulai menetes di pipi.Tak kan kubiarkan sampai membasahi pipiku.
Tapi aku tidak ingin membahasnya, nanti datang lagi". Ucap Riana dalam hati.
Riana gadis manis yang sudah beranjak dewasa. Saat ini hatinya lagi bimbang. Antara memilih menunggu pria yang dicintainya sejak dulu ataukah menerima pria yang kini mencintainya dengan tulus.
Riana dalam kebimbangan. Wajah Herman masih terus membayangi setiap hari-harinya. Kekasihnya itu pamit untuk bekerja di daerah lain. Tapi sudah beberapa tahun tak terdengar kabarnya. Riana dengan setianya masih menanti Herman suatu saat akan kembali untuknya.
Setahun sudah perkenalannya dengan Lukman. Cowok yang dikenalkan temannya. Lukman baik, perhatian dan selalu ada saat Riana membutuhkannya. Lukman tidak pernah jenuh memberikan Riana perhatian.
"Cukup Riana. Penantianmu itu tidak ada gunanya sama skali". Ucap Nita. "Apa yang kamu lakukan untuk Herman hanya perbuatan sia-sia. Bukalah matamu dan berhentilah bermimpi. Belum tentu Herman setia seperti apa yang kamu lakukan". Tegas Nita skali lagi. Nita tidak pernah jenuh mengingatkan sahabatnya untuk selalu berpikir realistis.
Herman sudah bertahun-tahun meninggalkan Riana. Tanpa kabar berita. Tapi Riana masih percaya suatu hari nanti Herman akan kembali padanya.
Riana hanya tertunduk mendengar perkataan sahabatnya. "Tapi aku tidak mencintai Lukman Nit, Lukman harusnya tau itu". Ucap Riana. "Walaupun perhatian dan kebaikannya selalu dia tunjukkan padaku, semua itu juga sia-sia bagiku". Tambah Riana.
Nita merasa iba dengan sahabatnya. Dia berjalan mendekati Riana dan memeluknya. "Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu Ri". Nita berusaha meyakinkan. "Trimakasih Nita". Balas Riana.
"Rianaaaa". Terdengar suara ibu dari dapur membuyarkan ingatan Riana tentang kata-kata Nita suatu sore di sebuah cafe. "Ya Bu, i am coming". Balas Riana. Riana segera beranjak dari tempat tidurnya berjalan menuju dapur menemui ibunya yang lagi sibuk menggoreng pisang. "Air sudah mendidih tuh. Bikin teh untuk Bapak". Ucap ibu. "Ya Ibu". Kata Riana. Setelah pisang goreng buatan ibu matang dan teh manis buatan Riana selesai kemudian mereka berkumpul di halaman belakang menikmati cemilan sore itu.
"Kak ada undangan dari teman kuliah kakak. Minggu depan married". Ucap Reza memulai percakapan. "Ya deh nanti Kakak liat. Balas Riana sambil terus mengunyah pisang gorengnya. "Kapan Kakak nyusul? Kayaknya tinggal Kak Riana yang hampir jadi perawan tua". Canda Reza sambil senyum-senyum. Reza senang banget liat Riana kalau lagi ngambek. Kalau sudah begitu, ibu segera memberi isyarat pada Reza untuk menghentikan candaannya. Ibu tidak ingin Riana ngambek berlama-lama.
"Halo, ada apa Nit, Aku masih sibuk nih. Ah....kapan? Ya nanti kita sama-sama ke sana. Ok". Riana mengakhiri pembicaraan dan meletakkan Hpnya di meja. Riana tampak kuatir dan sedih.
Apa yang terjadi dengan Riana?
Riana berjalan lebih cepat dari Nita di korodor rumah sakit. Riana ingin secepatnya melihat keadaan pahlawannya itu. Lukman memang seorang pahlawan bagi Riana. Bukan saja sejak pertama kali mereka bertemu, tapi sampai saat ini Lukman tak pernah alfa memberikan perhatian-perhatiannya kepada Riana. Tapi sekarang, pahlawan itu terbaring tak berdaya di kamar perawatan. Lukman tertidur, lengan kiri dan kaki kirinya dibalut perban. “Semalam kak Lukman lembur. Sepulang dari kantor, di tengah perjalanan pulang, dia diserempet mobil. Mobil yang menyerempetnya pergi begitu saja dan meninggalkan kak Lukman yang terbaring di pinggir jalan. Untung saja ada pengendara motor yang lewat, menolong kak Lukman dan membawanya ke rumah sakit ini”. Jelas Vira adik Lukman. “Pengendara mobil itu tidak bertanggung jawab dan tega meninggalkan korbannya begitu saja”. Ucap Riana prihatin.
Beberapa saat setelah kedatangan Riana dan Nita, Lukman pun terbangun. Raut wajahnya berubah seketika saat melihat Gadis yang dicintainya ada di dekatnya. Dalam hati Riana masih ingin tinggal menemani Lukman tapi Nita sudah harus pulang karena mengingat anaknya dititipkan sama tetangga sebelum ke rumah sakit.
Sesampai di rumah, Riana masih teringat Lukman. Dalam hati dia berdoa semoga Lukman cepat sembuh dan bisa beraktifitas lagi. Riana selalu ingat senyum manis Lukman. Sering Riana memujinya dalam hati, tapi cepat-cepat diusirnya perasaan itu karena Riana tidak ingin jatuh cinta pada Lukman dan menghianati cinta Herman.
Sejujurnya beberapa hari ini Riana sering memikirkan Lukman. Memikirkan kenapa setiap kali tatapan mata mereka bertemu, jantung Riana berdebar-debar? Satu atau dua hari saja Lukman bertugas di luar kota, Riana selalu ingin menelponnya. Tapi semua itu tidak ingin Riana artikan sebagai cinta. “Ah…jangan sampai terjadi”. Ucap Riana dalam hati.
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit dan beristirahat di rumah akhirnya Lukman kembali bisa beraktifitas. Riana merasa lega. Bukan karena ada lagi yang menjemputnya sepulang dari kantor, tapi karena dia bisa kembali melihat senyum manis cowok itu. “Alhamdulillah ya Allah. Kak Lukman udah sembuh”. Ucap Riana bahagia.
Sore ini Lukman dan Riana bertemu atas permintaan Riana di sebuah café yang sering mereka kunjungi. Ada yang ingin Riana sampaikan pada Lukman. Dan sudah berhari-hari Riana pikirkan. Perasaan ini tidak lazim bagi Riana terhadap Lukman tapi kenyataan inilah yang membuat hidup Riana kembali punya semangat dan lebih berwarna. Hanya dengan mengingat Lukman dan mengingat senyuman dan tatapannya, Riana bisa senyum-senyum sendiri. Tidak bisa lagi Riana menyangkalnya. Dan hari ini rencananya Riana akan memberikan jawaban ke Lukman.
Tapi sebelum Riana sempat menyampaikan maksudnya, tiba-tiba dari arah pintu café Herman berjalan menuju ke arah Riana. Riana kaget dan berdiri. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Riana…ini aku Herman”. Ucap Herman meraih tangan Riana. “Herman. Kamu datang”. Air mata Riana tidak terbendung lagi.
Lukman yang menyaksikan pertemuan itu tidak bisa berkata apa-apa lagi. “Jadi ini yang ingin Riana sampaikan ”. Dalam hati Lukman merasa sakit, kecewa dan memilih untuk pergi dari tempat itu.
Riana memanggil Lukman tapi Herman menghalanginya. “Biarkan aku bicara Ri”. Kata Herman memaksa. “Untuk apa lagi kamu datang setelah pergi dan tidak ada kabar. Aku menunggumu. Aku tidak pernah menghianatimu”. Kata Riana sambil sesenggukan. “Aku tau itu. Makanya aku sempatkan datang menemuimu. Maafkan aku. Aku berharap setelah kamu tidak tau kabar beritaku kamu akan mencintai orang lain. Tapi ternyata tidak. Kamu tetap setia menungguku. Aku malu Riana… karena aku tidak sesetia kamu. Aku telah menikah dan punya satu anak perempuan. Aku sempatkan datang untuk memberimu kebebasan tanpa harus merasa bersalah jika kamu sudah jatuh cinta pada seseorang. Apa dia yang duduk bersamamu tadi Ri”? Tanya Herman. Riana mengangguk dan masih terus menangis. Dia tidak tau perasaannya kini. Haruskah dia bahagia ataukah bersedih.
Setelah mendengar ucapan Herman, Riana segera beranjak pergi. Tidak ada yang lebih penting baginya saat itu selain bertemu Lukman. “Kak Lukman harus tau perasaanku. Aku memilihnya bukan karena desakan ibu yang sudah ingin menimang cucu, bukan juga mengikuti kata-kata Nita sahabatku. Tapi karena pilihan hatiku, untuk Kak Lukman”. Ucap Riana sudah mantap.
Lukman tidak bisa ditemui. Di rumahnya Lukman tidak ada. Hpnya dihubungi juga tidak bisa. Riana bingung mesti mencari kemana. Akhirnya Riana memutuskan untuk pulang saja. Tepat jam 7 malam Riana tiba di rumahnya. Dia begitu lemas dan hampir terjatuh di kursi saat masuk di ruang tamu. Betapa kagetnya dia saat melihat Lukman sudah duduk bersama ayahnya di ruangan yang sama. Seseorang yang dari tadi dicarinya ternyata ada di rumanya. “Kamu dari mana Ri? Ini ada nak Lukman dari tadi menunggu kamu”. Ucap ayah Riana sambil tersenyum. Karena Pak Husni sudah tau maksud kedatangan Lukman, dia pun berdiri dan meninggalkan Riana dan Lukman di ruang tamu. “Ri, maafkan aku ya tinggalin kamu di café. Aku berpikir kamu akan kembali kepada Herman. Herman tadi menelponku. Maafkan aku juga karena sudah membuat kamu bingung saat mencariku”. Jelas Lukman. “Apa yang ingin kamu sampaikan sebenarnya Ri”? “Aku ingin menyampaikan perasaanku Kak, kalau aku juga cinta sama kak Lukman. Aku sayang kak Lukman “. Ucap Riana sambil tertunduk. Lukman yang mendengar itu sangat bahagia. Apa yang selama ini jadi impiannya telah terwujud. Tanpa pikir panjang lagi, Lukman memanggil Ibu Mita dan Pak Husni duduk di ruang tamu dan menyatakan keinginannya untuk melamar Riana.
Riana hanya tersenyum melihat tingkah Lukman. Kebahagiaan Riana kini jelaslah sudah seperti pilihan hatinya kini memilih seseorang yang mencintainya dengan tulus dan penuh kesabaran.
Penulis
Ela Anwar
(Banua Baru, 25 Maret 2015)
Labels:
cinta
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment