“Indahnya Bola Matamu Habibati”
Sore itu aini menyapu halaman
rumahnya, beberapa orang yang melakukan PKL (praktek kerja lapangan) di kampungnya menyapa aini, namun
aini segera berlari ke dalam Rumahnya.
“Dia memang begitu, setiap kali melihat lelaki yang bukan mahramnya, ia secepatnya menundukkan pandangan atau jika lagi banyak yang memperhatian ia lebih memilih untuk masuk ke rumahnya” kata pak sugeng selaku kepala desa yang sementara itu menemani kami keliling desa.
“Dia memang begitu, setiap kali melihat lelaki yang bukan mahramnya, ia secepatnya menundukkan pandangan atau jika lagi banyak yang memperhatian ia lebih memilih untuk masuk ke rumahnya” kata pak sugeng selaku kepala desa yang sementara itu menemani kami keliling desa.
Waktu itu, aku mulai penasaran
dengannya, namun segera kutepis kembali fikiranku untuk segera melupakan dia
yang bukan milikku.
Hari-hari berlalu seperti biasanya
setiap kali kami melewati rumah aini, ia berlari ke dalam rumahnya. Aku mengerti betul maksudnya, ia tak ingin ada fitnah, namun sikapnya membuatku
semakin jatuh hati padanya. Aini yang pemalu, manis nan cantik jelita.
Sore itu, tak ada teman dan pak sugeng
bersamaku, aku sengaja berjalan sendiri agar aini tidak masuk ke rumahnya lagi.
“Assalamualikum. . . Assalamualaikum ukhti”
“Wa’alikum salam”
Aku tak menyangka dia mnjawab salamku,
suaranya yang merdu membelai lembut di telingaku membuatku tambah jatuh hati
padanya. Namun tak kulihat wajahnya karena dengan cepat ia menundukkan
pandangannya. Aini terkenal sebagai wanita yang sholehah, sudah banyak yang
datang melamarnya namun tak ada yang diterimanya. Pernah sekali, seorang lelaki
kota kaya raya datang untuk melamarnya namun segera ia tolak karena niat lelaki
ini menikahi aini karena ia mencintai aini karena kecantiknya. Aku tau betul, aini hanya akan menikah dengan lelaki sederhana yang
mencintainya karena Robbnya tapi tak satu pun di antara mereka yang mengatakan
mencintai aini karena Cintanya pada sang ilahi Robbi. Ku tau cerita ini dari
tetangga tetangga yang tak sengaja kudengar saat mereka membicarakannya.
Aini, adalah wanita sholehah, bercadar. yang patuh pada kedua orangtuanya, taat beragama dan sering melakukan dakwah ke desa seberang.
Aini, adalah wanita sholehah, bercadar. yang patuh pada kedua orangtuanya, taat beragama dan sering melakukan dakwah ke desa seberang.
Malam itu, aku tak sengaja bertemu
aini saat pulang dari mesjid dekat Rumahnya.
“Assalamu’alaikum ukhtii”
“Wa’alaikumsalamwarahmatullah”
Aku yang berjalan di belakangnya.
Memperhatikan langkah demi langkah aini yang semakin lama semakin cepat
jalannya. Tak sengaja, pulpen aini jatuh, lalu saat menoleh ke belakang hendak
mengambil pulpennya, penutup wajahnya terbuka, segera aini menutup kembali lalu
berlari dan kudengar isak tangisnya. Sejak saat itu aini tak lagi menampakkan
diri, sikapnya membuatku merasa bersalah.
Namun Masyaalloh, bayangan wajahnya yang terlihat sekilas di depan mataku waktu itu membuatku tak bisa melipakannya. Raut wajah cantiknya bersinar meski hanya diterangi cahaya rembulan, mungkin karena wudhunya dan matanya yang indah, tak pernah kulihat mata seindah itu sebelumnya.
Namun Masyaalloh, bayangan wajahnya yang terlihat sekilas di depan mataku waktu itu membuatku tak bisa melipakannya. Raut wajah cantiknya bersinar meski hanya diterangi cahaya rembulan, mungkin karena wudhunya dan matanya yang indah, tak pernah kulihat mata seindah itu sebelumnya.
Selang beberapa hari, aku mengirim
surat permintaan maaf.
“Assalamu’alaikum ukhtii
Sebelumnya, aku mau memperkenalkan
diri, namaku azam, aku datang ke kampung ini untuk KKN, aku lelaki yang kemarin
tak sengaja melihat ukhtii, Inginku ucapkan beribu-ribu maaf karena telah
melihat wajahmu, sedangkan aku bukan mahrammu, untuk menebus kesalahanku, aku
akan melakukan apapun, mungkin ini terlalu cepat, namun Insyaaalloh dalam
beberapa hari ini aku berniat untuk menghalalkanmu ukhti,
Tertanda, azam.
Stelah beberapa hari, aku tak
menyangka, aini membalas suratku, segera kubaca surat balasan aini.
“Wa’alaikum salam akhii"
Kejadian kemarin murni kesalahanku,
tapi mungkin ini sudah takdir sang ilahi Robbi. Apa yang membuatmu ingin
menghalalkanku? Sedang aku hanyalah gadis desa yang tak memiliki kelebihan apa-apa.
Balasan surat dari aini, lebih cepat
dari perkiraanku. Setelah membaca surat dari aini, bibirku merekah, segera
kubalas suratnya, tanpa berfikir panjang, bagaikan mobil yang tak memiliki rem,
yang terbayang hanyalah mata indah aini. Segeralah ia mengambil pulpen dan
kertas merah jambu dengan motif bunga.
“Alhamdulillah, terima kasih ukhtii,
aku sangat mengagumi matamu, mata indah, mata yang tak pernah kuliat sebelumnya,
semoga Engkau memnerimaku ukhtii agar bisa kupandangi mata itu saat kutertidur
hingga tertidur lagi”.
Aku sudah tak sabar membaca balasan
surat dari wanita yang kucintai, yang telah membayang-bayangi ku karena
keindahan matanya. Aku sudah tak konsen lagi pada PKLku, yang ada di fikiranku
hanya kecantikan aini dan tentunya dengan keindahan mata yang ia miliki.
Beberapa minggu kemudian, aini
membalas suratku, dengan sebuah kotak biru yang entah apa isinya, namun yang
terlebih dahulu kubuka adalah surat aini, karna sudah tak sabar ingin
mengetahui apa jawabannya.
“Assalamu”alaikum akhii, afwan. Maaf
karena balasn surat akhii agak lama, karena butuh berhari-hari untuk memikirkan
jawaban untuk yang tepat untuk akhii. Jawabannya ada pada kotak. Semoga akhii
senang”. Segeralah kubuka kotak itu, dan isinya, membuat hatiku hancur
berkeping-keping, airmataku jatuh tak tertahankan.
“Astagfirullah aladzim”, ku ucapkan
berkali-kali. Air mataku tak henti-hentinya mengalir, semakin lama semakin
deras, aku menyesali perbuatanku. Namun aku tak tahu harus balas apa, bahkan
untuk mengingat namanya saja aku sudah tak sanggup. Di dalam kotak ada kertas
lagi, segera kubaca, dengan perlahan-lahan kubuka kotak tadi.
“Akhii, maaf, aku tak bisa menerima lamaranmu,
aku tak ingin karena mata ini membuatmu mencintaiku hingga begitu dalam. jika
yang membuatmu mencintaiku adalah mataku, maka aku akan memberikan kedua bola
mataku untukmu, ambillah akhii, ini hadiah dariku untukmu, semoga mata ini tak
membuat Robbku murka padaku yang membuatmu mencintai mataku lebih dari kau
mencinta-Nya. Mungkin setelah engkau membaca surat ini aku sudah menghadap
ilahi, bertaubatlah akhii, semoga Alloh mengampunimu. Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarokatu”.
Aini memberikan kedua bola matanya
agar Allah tidak murka padanya, hingga akhirnya ia meninggal dalam keadaan
husnul khotimah, dalam jasadnya tercium bau yang teramat wangi hingga
berhari-hari. Aku sangat menyesali perkataanku padanya. Andaikan waktu itu aku
tidak di butakan oleh nafsuku, hal ini mungkin tak akan terjadi. Aini pasti
belum meninnggal, tapi apalah mau di kata “nasi sudah menjadi bubur” yang lalu
biarlah berlalu, ku ambil hikmah di balik semua kejadian ini.
Masyaalloh, semoga Alloh mengampuni
kita dari segala kilau dunia, Ambil hikmahnya, semoga bermanfaat. :)
Cerpen Karangan: Mhimi Naeema
Adawiah


No comments:
Post a Comment