"Laa
Tahzan Umi"
Malam ini hujan turun deras.
Kupandangi langit-langit rumahku. Bocor di mana-mana. Yaa Allah sebegitu
sulitkah hidupku saat ini. Apakah hidupku akan terus begini.
Kupandangi mozaik tua berbentuk
Ka’bah yang tertempel rapi diatas dinding kamarku. Ingin rasanya aku berada
diantara orang-orang yang besujud disana.
Jam sudah menunjukkan pukul 21.00
malam, hujan belum juga reda tetapi tidak sederas tadi. Segera aku ambil selimut
tua peninggalan nenekku. Walaupun selimutnya tebal dan otomatis tubuhku menjadi
hangat, Tetapi, aku tetap tidak bisa tidur . Memikirkan masa depanku nanti. Ibuk
bilang, aku harus punya cita-cita yang tinggi, dan mau untuk mewujudkannya.
Aku anak kedua dari dua bersaudara, kakak
perempuanku saat ini bekerja di daerah Jambewangi, Kecamatan Selopuro, Kabupaten
Blitar. Aku biasa memanggilnya Mbak Fita. Mbak Fita adalah orang yang selalu
memberiku semangat serta motivasi. Aku belajar hidup darinya.
Usia 23 tahun Mbak Fita belum juga
menikah. Padahal, teman-teman seperjuangannya sudah menikah bahkan ada yang
sudah mempunyai anak. Aku pernah bertanya kepadanya” Mbak Fita kapan menikah?”
Mbak Fita menjawab “Mbak akan menikah setelah adek selesai sekolah”. Setelah
mendengar jawaban dari kakakku, hatiku merasa sangat terharu. Begitu besar
cintanya padaku .
Untuk menghemat biaya, Mbak Fita
memilih pulang ke rumah setiap tiga bulan sekali. Jadi, di rumah hanya ada
aku, ibuk dan bapak. Kami bukan keluarga yang berkecukupan tetapi, juga tidak
terlalu kekurangan. Aku beruntung mempunyai bapak yang tangguh, ibuk yang kuat
dan kakak yang baik.
Bapak bekerja sebagai buruh
serabutan. Kalau musim panen bapak membantu para pemilik sawah untuk memanen
padi. Pekerjaan itu, bapak lakukan siang dan malam. Kadang, kalau musim panen
sudah selesai, bapak mencoba mencari penghasilan sebagai kuli bangunan. Tubuh
bapak kurus tak berdaging karena setiap hari bekerja untuk kami. Apapun bapak
lakukan demi keluarga kecilnya.
Lain dengan ibuk, ibuk membantu
keuangan keluarga dengan cara berdagang keliling Desa. Pagi ibuk belanja ke
pasar dan siangnya ibuk berkeliling desa untuk menjual dagangannya. Saat hari
minggu ibuk mengajakku ke Pasar dan akupun bersedia.
Pagi pagi benar ibuk
membangunkanku. Akupun segera bangun dan merapikan tempat tidurku. Setelah
semuanya sudah rapi ibuk menyuruhku untuk segera mandi, sholat dan setelah itu
membantunya memasak untuk makan pagi. Akupun segera mandi dan sholat subuh.
Setelah selesai sholat subuh akupun segera ke dapur untuk membantu ibuk
memasak, kali ini ibuk memasak sayur sop kesukaanku. Tak terasa matahari sudah
mulai menampakkan sinarnya. Ibuk menyuruhku untuk segera siap siap pergi ke
pasar. Setelah semua siap, aku dan ibuk segera berangkat berangkat ke pasar
dengan jalan kaki.
Tak terasa kamipun sudah sampai di pasar, dan ibuk langsung menaruh
tas belanjanya di atas meja yang sudah di siapkan sebelumnya. Kami berbelanja
sayur, aneka gorengan, jamu serta bumbu bumbu dapur lainnya. Barang belanjaan
ibuk banyak sekali aku tidak yakin bisa membawanya, tapi kata ibuk dagangan itu
tidak terlalu banyak.
Yaa Allah, baru sekali ini aku ikut ibuk berjualan.
Tapi, kakiku ini rasanya capek sekali, apalagi ibuk yang setiap hari membawa
beban seberat ini. Tapi, aku tidak pernah mendengar kata mengeluh atau capek
yang keluar dari mulut ibuk. Aku benar benar kagum sama ibuk.
Laa
tahzan umi, roda itu berputar, kadang
diatas kadang dibawah. Memang sekarang kita berada dibawah. Tapi, suatu saat
nanti aku akan membuat roda kehidupan kita berputar. Yang mulanya di bawah akan
berputar menjadi diatas. Laa tahzan umi, suatu saat nanti aku akan membawa ibuk
dan bapak berdo’a di Jabal Rahmah,
mencium Hajar aswat,dan sholat di Masjidil
Haram. Kita akan pergi kesana bersama sama.
LAA
TAHZAN UMI

cerprn ini cukup bsagus, mengisahkan tentang seorang anak yang sangat menyayangi ibunya. ketika dia mengetahui betapa ibunya bersusah payah untuk merawatnya..
ReplyDelete