RSS

Friday, 30 October 2015

La Tahzan Umi



"Laa Tahzan Umi"
          Malam ini hujan turun deras. Kupandangi langit-langit rumahku. Bocor di mana-mana. Yaa Allah sebegitu sulitkah hidupku saat ini. Apakah hidupku akan terus begini.
           Kupandangi mozaik tua berbentuk Ka’bah yang tertempel rapi diatas dinding kamarku. Ingin rasanya aku berada diantara orang-orang yang besujud disana.
           Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam, hujan belum juga reda tetapi tidak sederas tadi. Segera aku ambil selimut tua peninggalan nenekku. Walaupun selimutnya tebal dan otomatis tubuhku menjadi hangat, Tetapi, aku tetap tidak bisa tidur . Memikirkan masa depanku nanti. Ibuk bilang, aku harus punya cita-cita yang tinggi, dan mau untuk mewujudkannya.
           Aku anak kedua dari dua bersaudara, kakak perempuanku saat ini bekerja di daerah Jambewangi, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar. Aku biasa memanggilnya Mbak Fita. Mbak Fita adalah orang yang selalu memberiku semangat serta motivasi. Aku belajar hidup darinya.
            Usia 23 tahun Mbak Fita belum juga menikah. Padahal, teman-teman seperjuangannya sudah menikah bahkan ada yang sudah mempunyai anak. Aku pernah bertanya kepadanya” Mbak Fita kapan menikah?” Mbak Fita menjawab “Mbak akan menikah setelah adek selesai sekolah”. Setelah mendengar jawaban dari kakakku, hatiku merasa sangat terharu. Begitu besar cintanya padaku .
            Untuk menghemat biaya, Mbak Fita memilih pulang ke rumah setiap tiga bulan sekali. Jadi, di rumah hanya ada aku, ibuk dan bapak. Kami bukan keluarga yang berkecukupan tetapi, juga tidak terlalu kekurangan. Aku beruntung mempunyai bapak yang tangguh, ibuk yang kuat dan kakak yang baik.
             Bapak bekerja sebagai buruh serabutan. Kalau musim panen bapak membantu para pemilik sawah untuk memanen padi. Pekerjaan itu, bapak lakukan siang dan malam. Kadang, kalau musim panen sudah selesai, bapak mencoba mencari penghasilan sebagai kuli bangunan. Tubuh bapak kurus tak berdaging karena setiap hari bekerja untuk kami. Apapun bapak lakukan demi keluarga kecilnya.
             Lain dengan ibuk, ibuk membantu keuangan keluarga dengan cara berdagang keliling Desa. Pagi ibuk belanja ke pasar dan siangnya ibuk berkeliling desa untuk menjual dagangannya. Saat hari minggu ibuk mengajakku ke Pasar dan akupun bersedia.
              Pagi pagi benar ibuk membangunkanku. Akupun segera bangun dan merapikan tempat tidurku. Setelah semuanya sudah rapi ibuk menyuruhku untuk segera mandi, sholat dan setelah itu membantunya memasak untuk makan pagi. Akupun segera mandi dan sholat subuh. Setelah selesai sholat subuh akupun segera ke dapur untuk membantu ibuk memasak, kali ini ibuk memasak sayur sop kesukaanku. Tak terasa matahari sudah mulai menampakkan sinarnya. Ibuk menyuruhku untuk segera siap siap pergi ke pasar. Setelah semua siap, aku dan ibuk segera berangkat berangkat ke pasar dengan jalan kaki.
               Tak terasa kamipun sudah  sampai di pasar, dan ibuk langsung menaruh tas belanjanya di atas meja yang sudah di siapkan sebelumnya. Kami berbelanja sayur, aneka gorengan, jamu serta bumbu bumbu dapur lainnya. Barang belanjaan ibuk banyak sekali aku tidak yakin bisa membawanya, tapi kata ibuk dagangan itu tidak terlalu banyak.            
                Yaa Allah, baru sekali ini aku ikut ibuk berjualan. Tapi, kakiku ini rasanya capek sekali, apalagi ibuk yang setiap hari membawa beban seberat ini. Tapi, aku tidak pernah mendengar kata mengeluh atau capek yang keluar dari mulut ibuk. Aku benar benar kagum sama ibuk.
                 Laa tahzan umi, roda itu berputar, kadang diatas kadang dibawah. Memang sekarang kita berada dibawah. Tapi, suatu saat nanti aku akan membuat roda kehidupan kita berputar. Yang mulanya di bawah akan berputar menjadi diatas. Laa tahzan umi, suatu saat nanti aku akan membawa ibuk dan bapak berdo’a di Jabal Rahmah,
mencium Hajar aswat,dan sholat di Masjidil Haram. Kita akan pergi kesana bersama sama.

LAA TAHZAN UMI

1 comment:

  1. cerprn ini cukup bsagus, mengisahkan tentang seorang anak yang sangat menyayangi ibunya. ketika dia mengetahui betapa ibunya bersusah payah untuk merawatnya..

    ReplyDelete