RSS

Thursday, 28 January 2016

RIANA


Di hadapkan pada suatu pilihan terkadang terasa sulit, apalagi menyangkut soal hati. Hati selalu ingin diperlakukan dengan sangat hati-hati agar tidak melibatkan air mata. Dan andalan seorang wanita, ya air mata. Smakin membasahi pipi smakin melegakan perasaan.
"Aku Riana...tidak suka dengan air mata tapi air mata selalu saja setia hadir saat masalah datang menghampiriku. Cepat-cepat kuseka air mataku kalau mulai menetes di pipi.Tak kan kubiarkan sampai membasahi pipiku.
Tapi aku tidak ingin membahasnya, nanti datang lagi". Ucap Riana dalam hati.
Riana gadis manis yang sudah beranjak dewasa. Saat ini hatinya lagi bimbang. Antara memilih menunggu pria yang dicintainya sejak dulu ataukah menerima pria yang kini mencintainya dengan tulus.
Riana dalam kebimbangan. Wajah Herman masih terus membayangi setiap hari-harinya. Kekasihnya itu pamit untuk bekerja di daerah lain. Tapi sudah beberapa tahun tak terdengar kabarnya. Riana dengan setianya masih menanti Herman suatu saat akan kembali untuknya.
Setahun sudah perkenalannya dengan Lukman. Cowok yang dikenalkan temannya. Lukman baik, perhatian dan selalu ada saat Riana membutuhkannya. Lukman tidak pernah jenuh memberikan Riana perhatian.
"Cukup Riana. Penantianmu itu tidak ada gunanya sama skali". Ucap Nita. "Apa yang kamu lakukan untuk Herman hanya perbuatan sia-sia. Bukalah matamu dan berhentilah bermimpi. Belum tentu Herman setia seperti apa yang kamu lakukan". Tegas Nita skali lagi. Nita tidak pernah jenuh mengingatkan sahabatnya untuk selalu berpikir realistis.
Herman sudah bertahun-tahun meninggalkan Riana. Tanpa kabar berita. Tapi Riana masih percaya suatu hari nanti Herman akan kembali padanya.
Riana hanya tertunduk mendengar perkataan sahabatnya. "Tapi aku tidak mencintai Lukman Nit, Lukman harusnya tau itu". Ucap Riana. "Walaupun perhatian dan kebaikannya selalu dia tunjukkan padaku, semua itu juga sia-sia bagiku". Tambah Riana.
Nita merasa iba dengan sahabatnya. Dia berjalan mendekati Riana dan memeluknya. "Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu Ri". Nita berusaha meyakinkan. "Trimakasih Nita". Balas Riana.
"Rianaaaa". Terdengar suara ibu dari dapur membuyarkan ingatan Riana tentang kata-kata Nita suatu sore di sebuah cafe. "Ya Bu, i am coming". Balas Riana. Riana segera beranjak dari tempat tidurnya berjalan menuju dapur menemui ibunya yang lagi sibuk menggoreng pisang. "Air sudah mendidih tuh. Bikin teh untuk Bapak". Ucap ibu. "Ya Ibu". Kata Riana. Setelah pisang goreng buatan ibu matang dan teh manis buatan Riana selesai kemudian mereka berkumpul di halaman belakang menikmati cemilan sore itu.
"Kak ada undangan dari teman kuliah kakak. Minggu depan married". Ucap Reza memulai percakapan. "Ya deh nanti Kakak liat. Balas Riana sambil terus mengunyah pisang gorengnya. "Kapan Kakak nyusul? Kayaknya tinggal Kak Riana yang hampir jadi perawan tua". Canda Reza sambil senyum-senyum. Reza senang banget liat Riana kalau lagi ngambek. Kalau sudah begitu, ibu segera memberi isyarat pada Reza untuk menghentikan candaannya. Ibu tidak ingin Riana ngambek berlama-lama.
"Halo, ada apa Nit, Aku masih sibuk nih. Ah....kapan? Ya nanti kita sama-sama ke sana. Ok". Riana mengakhiri pembicaraan dan meletakkan Hpnya di meja. Riana tampak kuatir dan sedih.
Apa yang terjadi dengan Riana?
Riana berjalan lebih cepat dari Nita di korodor rumah sakit. Riana ingin secepatnya melihat keadaan pahlawannya itu. Lukman memang seorang pahlawan bagi Riana. Bukan saja sejak pertama kali mereka bertemu, tapi sampai saat ini Lukman tak pernah alfa memberikan perhatian-perhatiannya kepada Riana. Tapi sekarang, pahlawan itu terbaring tak berdaya di kamar perawatan. Lukman tertidur, lengan kiri dan kaki kirinya dibalut perban. “Semalam kak Lukman lembur. Sepulang dari kantor, di tengah perjalanan pulang, dia diserempet mobil. Mobil yang menyerempetnya pergi begitu saja dan meninggalkan kak Lukman yang terbaring di pinggir jalan. Untung saja ada pengendara motor yang lewat, menolong kak Lukman dan membawanya ke rumah sakit ini”. Jelas Vira adik Lukman. “Pengendara mobil itu tidak bertanggung jawab dan tega meninggalkan korbannya begitu saja”. Ucap Riana prihatin.
Beberapa saat setelah kedatangan Riana dan Nita, Lukman pun terbangun. Raut wajahnya berubah seketika saat melihat Gadis yang dicintainya ada di dekatnya. Dalam hati Riana masih ingin tinggal menemani Lukman tapi Nita sudah harus pulang karena mengingat anaknya dititipkan sama tetangga sebelum ke rumah sakit.
Sesampai di rumah, Riana masih teringat Lukman. Dalam hati dia berdoa semoga Lukman cepat sembuh dan bisa beraktifitas lagi. Riana selalu ingat senyum manis Lukman. Sering Riana memujinya dalam hati, tapi cepat-cepat diusirnya perasaan itu karena Riana tidak ingin jatuh cinta pada Lukman dan menghianati cinta Herman.
Sejujurnya beberapa hari ini Riana sering memikirkan Lukman. Memikirkan kenapa setiap kali tatapan mata mereka bertemu, jantung Riana berdebar-debar? Satu atau dua hari saja Lukman bertugas di luar kota, Riana selalu ingin menelponnya. Tapi semua itu tidak ingin Riana artikan sebagai cinta. “Ah…jangan sampai terjadi”. Ucap Riana dalam hati.
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit dan beristirahat di rumah akhirnya Lukman kembali bisa beraktifitas. Riana merasa lega. Bukan karena ada lagi yang menjemputnya sepulang dari kantor, tapi karena dia bisa kembali melihat senyum manis cowok itu. “Alhamdulillah ya Allah. Kak Lukman udah sembuh”. Ucap Riana bahagia.
Sore ini Lukman dan Riana bertemu atas permintaan Riana di sebuah café yang sering mereka kunjungi. Ada yang ingin Riana sampaikan pada Lukman. Dan sudah berhari-hari Riana pikirkan. Perasaan ini tidak lazim bagi Riana terhadap Lukman tapi kenyataan inilah yang membuat hidup Riana kembali punya semangat dan lebih berwarna. Hanya dengan mengingat Lukman dan mengingat senyuman dan tatapannya, Riana bisa senyum-senyum sendiri. Tidak bisa lagi Riana menyangkalnya. Dan hari ini rencananya Riana akan memberikan jawaban ke Lukman.
Tapi sebelum Riana sempat menyampaikan maksudnya, tiba-tiba dari arah pintu café Herman berjalan menuju ke arah Riana. Riana kaget dan berdiri. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Riana…ini aku Herman”. Ucap Herman meraih tangan Riana. “Herman. Kamu datang”. Air mata Riana tidak terbendung lagi.
Lukman yang menyaksikan pertemuan itu tidak bisa berkata apa-apa lagi. “Jadi ini yang ingin Riana sampaikan ”. Dalam hati Lukman merasa sakit, kecewa dan memilih untuk pergi dari tempat itu.
Riana memanggil Lukman tapi Herman menghalanginya. “Biarkan aku bicara Ri”. Kata Herman memaksa. “Untuk apa lagi kamu datang setelah pergi dan tidak ada kabar. Aku menunggumu. Aku tidak pernah menghianatimu”. Kata Riana sambil sesenggukan. “Aku tau itu. Makanya aku sempatkan datang menemuimu. Maafkan aku. Aku berharap setelah kamu tidak tau kabar beritaku kamu akan mencintai orang lain. Tapi ternyata tidak. Kamu tetap setia menungguku. Aku malu Riana… karena aku tidak sesetia kamu. Aku telah menikah dan punya satu anak perempuan. Aku sempatkan datang untuk memberimu kebebasan tanpa harus merasa bersalah jika kamu sudah jatuh cinta pada seseorang. Apa dia yang duduk bersamamu tadi Ri”? Tanya Herman. Riana mengangguk dan masih terus menangis. Dia tidak tau perasaannya kini. Haruskah dia bahagia ataukah bersedih.
Setelah mendengar ucapan Herman, Riana segera beranjak pergi. Tidak ada yang lebih penting baginya saat itu selain bertemu Lukman. “Kak Lukman harus tau perasaanku. Aku memilihnya bukan karena desakan ibu yang sudah ingin menimang cucu, bukan juga mengikuti kata-kata Nita sahabatku. Tapi karena pilihan hatiku, untuk Kak Lukman”. Ucap Riana sudah mantap.
Lukman tidak bisa ditemui. Di rumahnya Lukman tidak ada. Hpnya dihubungi juga tidak bisa. Riana bingung mesti mencari kemana. Akhirnya Riana memutuskan untuk pulang saja. Tepat jam 7 malam Riana tiba di rumahnya. Dia begitu lemas dan hampir terjatuh di kursi saat masuk di ruang tamu. Betapa kagetnya dia saat melihat Lukman sudah duduk bersama ayahnya di ruangan yang sama. Seseorang yang dari tadi dicarinya ternyata ada di rumanya. “Kamu dari mana Ri? Ini ada nak Lukman dari tadi menunggu kamu”. Ucap ayah Riana sambil tersenyum. Karena Pak Husni sudah tau maksud kedatangan Lukman, dia pun berdiri dan meninggalkan Riana dan Lukman di ruang tamu. “Ri, maafkan aku ya tinggalin kamu di café. Aku berpikir kamu akan kembali kepada Herman. Herman tadi menelponku. Maafkan aku juga karena sudah membuat kamu bingung saat mencariku”. Jelas Lukman. “Apa yang ingin kamu sampaikan sebenarnya Ri”? “Aku ingin menyampaikan perasaanku Kak, kalau aku juga cinta sama kak Lukman. Aku sayang kak Lukman “. Ucap Riana sambil tertunduk. Lukman yang mendengar itu sangat bahagia. Apa yang selama ini jadi impiannya telah terwujud. Tanpa pikir panjang lagi, Lukman memanggil Ibu Mita dan Pak Husni duduk di ruang tamu dan menyatakan keinginannya untuk melamar Riana.
Riana hanya tersenyum melihat tingkah Lukman. Kebahagiaan Riana kini jelaslah sudah seperti pilihan hatinya kini memilih seseorang yang mencintainya dengan tulus dan penuh kesabaran.
Penulis
Ela Anwar
(Banua Baru, 25 Maret 2015)

Monday, 25 January 2016

RINDU MENTARI

Deburan ombak pantai Palippis semakin mengharubirukan perasaanku. Saat ini hanya bayangan wajahmu yang tampak menari-nari di pelupuk mataku. Aku sedih dan sangat rindu denganmu yang sudah sekian lamanya pergi dari sisiku. Di pantai ini Aku dan Rafly pernah bersama. Menikmati suasana pantai yang tenang, deburan ombak yang silih berganti datang menghampiri. Aku sangat senang saat kakiku tersentuh oleh air laut sambil bersenda gurau dengan kamu. Kamu sedang apa sekarang? Masihkah ingatanmu hanya tertuju untukku?
Malam itu dia datang mengunjungiku. Dengan celana jean’s abu-abu dan baju kaos hitam dia datang tapi bukan malam minggu seperti biasanya. Aku jadi bertanya-tanya dalam hati, “Ada perlu apa dia kesini?”. Lama aku menunggu sampai dia memulai pembicaraan. Tapi memang perasaanku mulai tidak enak saat melihat gelagatnya yang hanya diam di kursi sambil trus menunduk seperti sedang menghitung berkali-kali jari kakinya. 
“Tidak lama lagi aku akan meninggalkan kota ini”, dengan suara serak dia memulai pembicaraan. “ Disini tidak ada yang bisa aku kerjakan selain hanya nongkrong bersama teman-teman, tak jelas masa depanku kalau aku terus-terusan berada disini. Aku mohon Mentari, biarkan Aku pergi bersama Om Amri ke Surabaya. Ini demi masa depan kita juga”, harap Rafly dengan mata berkaca-kaca. Kembali suasana tenang, masing-masing kami tertunduk. Aku tidak mampu berkata apa-apa selain air mataku mulai menetes di kedua pipiku. Kenapa Aku jadi secengeng ini? Bukankah dia pergi untuk memperbaiki kehidupannya. Memang di kota ini dia hanya jadi pemuda pengangguran padahal Ayah dan Ibunya sangat mengharapkan dia jadi seseorang yang mandiri dan punya pekerjaan tetap. Hal ini pun pernah dia utarakan, tapi Aku menanggapinya santai saja karena dia pun menyampaikan dengan setengah bercanda.
    “Baiklah kalau itu sudah jadi keputusanmu”, jawabku  memecah keheningan. “Tapi kamu harus janji akan tetap setia dan tidak akan melupakan Aku. Karena sangat berat menjalani hal seperti ini”, kembali Aku menambahkan. Memang sangat berat menjalani pacaran jarak jauh, terutama mengatasi rasa rindu.
Seperti disihir, wajah Rafly yang tadinya muram dan tidak ada keceriaan kini berubah jadi bersemangat dan ceria kembali. Senyum manisnya kini terlihat menghiasi wajahnya. Manis banget. “Trimakasih Mentari, Aku janji akan slalu setia dan tidak akan pernah melupakanmu. Cintaku hanya untuk kamu Mentari,” Jawab Rafly meyakinkan dan penuh semangat.
Malam itu tidak banyak kata yang terucap. Kami tenggelam dengan pikiran dan khayalan masing-masing. Aku memikirkan saat bagaimana nanti saat Rafly tidak disini lagi, apa Aku bisa melewati hari-hari tanpa dia? Dia lah yang selama ini membuat hari-hariku selalu ceria dan penuh tawa. Dia sangat humoris dan banyak disenangi oleh warga disini. Dia banyak teman. Dia juga suka menolong orang-orang yang mengalami kesulitan. Di dekatnya, Aku selalu merasa aman dan bahagia.  Dia banyak ditaksir oleh cewek-cewek di kota Wonomulyo ini, tapi Aku sangat percaya dengan kesetiaannya. Walaupun pernah juga Aku cemburu kalau ada cewek yang menyapa mesra Rafly di depanku. Tujuannya memang ingin membuat hubunganku dengan Rafly berantakan. Tapi usaha cewek tersebut pastinya hanya sia-sia karena kami tetap baik-baik saja.
Hubungan kami sudah berjalan 2 tahun sejak Aku kelas 3 SMU dan Rafly semester 5 di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Polman. Banyak juga masalah- masalah yang kami hadapi. Tapi tidak membuat hubungan kami jadi goyah. Di antara teman-teman kami yang punya pacar, kami termasuk pasangan yang romantis dan paling akur. Mereka saja yang tidak tahu kalau kami juga sering bertengkar. Bedanya dengan mereka, kalau kami lagi ada masalah kami selesaikan sendiri tanpa harus bercerita ke teman atau sahabat, termasuk sahabatku Yani. Aku hanya cerita kebahagiaanku saja pada Yani. Karena Aku berfikir, ngapain cerita masalah kita ke orang-orang kalau masalah itu bisa kita selesaikan sendiri. Yani dan teman-teman sangat mengagumi hubungan Aku dan Rafly. “Pasangan paling akur”, kata Yani waktu kami sedang duduk-duduk di teras rumahnya sore hari. “Ya ialah”,  Aku menjawab dengan mantap. Yani tersenyum sambil mengangguk tanda setuju.
Kepergian Rafly untuk waktu yang lama sangat membuatku terpukul dan terpuruk. Walau alasannya demi masa depan kami. Entah mengapa dari awal Aku mengiayakan di bibir tapi hatiku sangat tidak ikhlas melepasnya. Mungkin karena selama ini hanya dia yang selalu menyemangati hidupku. Dia selalu datang memberikan guyonan-guyonan hangatnya. Dimana pun dia berada orang-orang sekitarnya selalu merasa terhibur. Itulah Rafly, sosok yang menyenangkan tapi kini dia jauh. Jauh dan sangat jauh.
Hari-hari yang kujalani juga biasa-biasa saja sejak kepergian Rafly. Sehari-harinya Aku kuliah di PTS yang sama dengan Rafly dan telah duduk di semester 5. Rafly sudah sarjana sejak satu tahun yang lalu. Suasana di angkutan umum atau pete-pete (sebutan angkutan umum di kota Polman)  hari ini tenang karena hanya ada Aku, pak supir dan 2 penumpang lain yang menuju Wonomulyo. Aku memandangi setiap jalan yang dilewati pete-pete merah yang sedang kutumpangi. Setiba di terimal wono Aku melanjutkan perjalananku dengan becak sebelum akhirnya Aku tiba juga di rumah setelah melewati panasnya kota Wonomulyo.
Aku menaiki tangga rumah dengan sangat lesu. Terdengar suara orang bercakap di ruang tamu dengan ibuku. Suara itu sudah tidak asing lagi bagiku. Kak Yanti! Kak Yanti adalah kakak dari Rafly. Ya Kak Yanti pemilik suara itu. Tapi mengapa suaranya terdengar parau dan sepertinya sedang menangis. “Ada apa dengan Kak yanti?” tanyaku dalam hati. Aku pun mempercepat langkahku menuju ke atas. Di ruang tamu terlihat ibu dan Kak Yanti sedang duduk, seketika Kak Yanti menghentikan pembicaraan dan spontan keduanya menengok ke pintu ketika Aku memberi salam. “Assalamu Alaikum”, ucapku. “Waalaikumsalam”, jawab keduanya. Mata mereka masing-masing telah sembab dengan air mata. Aku semakin bingung dan mulai kuatir. Cuaca panas kota Wono siang ini betul-betul membuat kepalaku pusing ditambah kebingungan yang ibu dan Kak Yanti ciptakan hari ini.
“Duduklah Mentari, Yanti ingin berbicara dengan kamu”, kata ibu mengajak sambil menyeka air matanya. “Ada apa ini? Kenapa Ibu dan Kak Yanti menangis? Apa yang terjadi dengan Kak Yanti?” tanyaku penasaran. “Mentari, Rafly......... Rafly Mentari”, ucap Kak Yanti terhenti dan terus menangis sambil memelukku. Aku semakin bingung, kubalas pelukan Kak Yanti. Kurasakan dadaku sesak, kakiku lemas dan kepalaku mulai pusing. Aku telah menduga kemungkinan terburuk telah menimpa Rafly orang yang paling Aku sayangi. “Rafly telah meninggalkan kita semua Mentari”, Kak Yanti melanjutkan dengan terbata-bata. “Dia kecelakan mobil di Surabaya tadi pagi saat menjalani tugas kantornya”. Lanjut Kak Yanti lagi. Tapi Aku sudah tidak mendengar kata-kata Kak Yanti selanjutnya. Menangis pun tak sempat saat Kak Yanti menjelaskan mengapa  dia dan ibu menangis sedih hari ini. Karena semua terlihat sangat gelap, gelap kepalaku terasa pusing dan Aku pingsan!
Saat Aku sadar, di sisiku ada ibu dan  Yani. Tidak terlihat Kak Yanti. Seolah ibu tahu apa yang ada di pikiranku beliaupun menjelaskan kalau Kak Yanti sudah pulang karena dia ditugasi untuk mengurus segala keperluan di rumahnya menyambut kedatangan jenazah Rafly. “Tidak mungkin Rafly meninggalkan Aku Bu, tidak mungkin! Dia menyayangi Aku, dia janji akan kembali untuk Aku”, ucapku sambil menangis. Aku sangat sedih dengan kepergian orang yang paling Aku sayangi. Aku seperti tidak punya semangat lagi dalam hidup ini. Rafly telah dipanggil oleh Yang Kuasa. Dia meninggalkan semua kenangan yang pernah kami lalui bersama. Secepat itu dia pergi.
Dini hari jenazah Rafly tiba dari Surabaya. Dan keesokan harinya barulah dimakamkan di kota Wono. Suasana haru terus mewarnai pemakaman Rafly. Sosok paling baik di antara kami itu telah pergi. Aku pun tidak henti-hentinya berdoa untuk Rafly di tengah-tengah prosesi pemakaman, semoga dia tenang di sisi-Nya dan ditempatkan di antara orang-orang yang beriman.
“Terimalah kenyataan kalau Rafly telah tiada Ri”, kata Yani beberapa lama setelah kepergian Rafly. Karena dia ingin mengenalkan Aku dengan keluarganya. “Dia baik Ri, dia juga penyayang”, ucap Yani meyakinkan. “Tapi tak ada yang sebaik Rafly. Ah...sudahlah Yan, tak ada gunanya kamu trus membujuk Aku. Rafly sudah mendapat tempat terindah di hatiku. Tidak ada yang dapat menggantikannya walau dia seorang pangeran sekalipun”, Aku menegaskan kepada Yani. Yani tidak berhenti sampai di situ. Tidak bosan-bosannya dia mengigatkan kalau Rafly tidak mungkin kembali dan Aku harus jadi wanita yang tegar. Dia adalah sahabat yang baik yang tidak pernah rela melihat sahabatnya terus-terusan dirundung duka yang berkepanjangan.
Kenyataannya Aku memang sangat lemah saat ditinggalkan Rafly. Aku menyelesaikan kuliahku dan mendapat gelar sarjana dengan seadanya. Tanpa prestasi dan nilai yang biasa saja. Mencintai seseorang sangatlah menyakitkan apabila orang yang kita cintai harus pergi dengan begitu cepat meninggalkan semua kenangan yang pernah terukir. Tapi hidup haruslah berjalan terus ke depan. Tidak ada salahnya mengingat masa lalu tapi tidak lantas membuat hidup ini harus berhenti berjalan karena masa lalu itu penuh duka. Tatap masa depan Mentari! Perjalanan masih sangat panjang! Kata-kata inilah yang selalu terngiang di telingaku setiap kali Aku selesai shalat dan berdoa untuk Rafly.
Air laut pantai Palippis kembali menyentuh kakiku. Sejuk terasa sesejuk hatiku saat ini melihat dua anak balita dan seorang pria sedang bermain pasir-pasiran di pantai Palippis yang sejuk. Anak perempuan itu berumur 2 tahun dan anak laki-laki yang satunya berumur 4,5 tahun. “Mamaaaaa, ikut main dong”, kata anak laki-laki itu setengah berteriak. “Ya sayang”, Aku berdiri dan berjalan menuju ke arah anak-anakku dan pria yang bersama mereka. Ya, mereka kedua anakku dan pria yang bersama mereka adalah suamiku. Haris namanya. Dia pria baik, setia dan sangat mencintaiku. Aku menjadi wanita paling beruntung karena limpahan kasih sayangnya. Yani yang memperkenalkan Haris padaku setelah 2 tahun kematian Rafly. Yani benar, tidak mungkin Aku terus-terusan mengharapkan Rafly yang tidak mungkin kembali. Aku pernah mencintanya melebihi apapun dan cinta itu telah terkubur bersama jasadnya. Hanya doa yang selalu Aku panjatkan untuknya semoga dia di sana juga bahagia seperti Aku di sini dan mendapat tempat terindah di sisi-Nya. Aku ke pantai Palippis saat ini atas izin Haris. Hari ini adalah hari ulang tahun Rafly. Sejak Aku mengenal Haris, setiap tahun kami ke Palippis yang merupakan tempat favorit dari Rafly dan Harislah yang punya ide ini. Dia tidak keberatan Aku mengenang Rafly, karena itu hanya sebatas kenangan saja. Cinta dan pengabdianku kini dan seterusnya hanya untuk Haris dan anak-anakku.
Bone, 7 Oktober 2011
Penulis
Ela Anwar

Wednesday, 25 November 2015

Surat Dari Surga



SURAT DARI SURGA

Ini adalah kisah tentang seorang anak yang bernama Sela yang meninggal karena menderita kanker, dn ibunya bernama Wina. Ia bersedih dan bertanya-tanya…
“kenapa Tuhan mengambil anaknya? Kemana tuhan membiarkan anaknya meninggal?” sampai akhirnya Bu Wina mendapat sepucuk surat dari surge dan Tuhan menjawab pertanyaannya.
Bu Wina segera bangun ketika dokter bedah keluar dari kamar operasi. Dia bertanya dengan penuh harapan, “Bagaimana anakku, apakah dia dapat disembuhkan?”
Dokter bedah menjawab, “Saya sudah berusaha sebaik mungkin, tapi sayangnya anak ibu sudah tidak tertolong.”
Bu Wina bertnya dengan hati remuk dan sakit, “Mengapa anakku yang tidak berdosa bisa terkena kanker? Apa Tuhan sudah tidak peduli lagi? Dimana Engkau Tuhan ketika anak laki-lakiku membutuhkanmu?”.
Dokter bedah bertanya, “Apa ibu ingin bersama anak ibu selama beberapa waktu? Perawat akan kelaur untuk beberapa menit sebelum jenazahnya dibawa ke universitas.”
Bu Wina meminta oerawat tinggal bersamanya saat dia akan mengucapkan selamat jalan kepada anak lelakinya. Lalu dengan penuh kasih dia mengusap rambut anaknya yang hitam itu.
“Apa ibu ingin menyimpan sedikit rambutnya sebagai kenangan?” perawat itu bertanya.
Bu Wina mengangguk. Kemudian perawat memotong sedikit rambut dan menaruhnya di dalam kantong plastic untuk disimpan.
Ibu Wina berkata, “Sela anakku ingin mendonorkn tubuhnya untuk diteliti di Universitas. Dia mengatakan mungkin dengan cara ini dia dapat menolong orang lain yang memerlukan.”
“Awalnya saya tidak memperbolehkan, tapi Sela manjawab… Ma, saya kan sudah tidak membutuhkan tubuh ini setelah mati nanti. Mungkin tubihku dapat membantu anak lain untuk bisa hidup lebih lama dengan ibunya.”
Bu Wina terus bercerita, “Anakku itu memiliki hati emas, Sela selalu memikirkan orang lain. Selalu ingin membantu orang lain selama dia bisa melakukannya.”
Bu Wina meninggalkan rumah sakit setelah menghabiskan waktunya selama 6 bulan di sana untuk merawat Sela.
Dia membawa kantong yang berisi barang-barang anaknya. Parjalanan pulang sungguh sulit baginya. Lebih sulit lagi ketika dia memasuki rumah yang terasa kosong.
Barabg-barang Sela ditaruhnya bersama kantong-kantong plastic yang berisi segenggam ranbut itu di adalam kamar anak lelakinya.
Dia meletakkan mobil mainan dan barang-barang milik pribadi Sela, di tempat Sela biasa menyimpan barang-barang itu.
Kemudian dia membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Dengan membenamkan wajahnya pada bantal, dia menangis hingga tertidur.
Di sekitar tengah malam, Bu Wina terjaga. Di samping bantalnya terdapat surat yang terlipat. Surat itu berbunyi:
“Mama tercinta, saya tahu mama akan kehilangan saya… tetapi saya akan selalu mengingatmu ma.. dan tidk akan berhenti mencintaimu walaupun saya sudah tidak bisa mengatakan
“AKU SAYANG MAMA”
“Saya selalu mencintaimu bahkan semakin hari akan semakin saying padamu ma. Sampai sutu saat kita akan bertemu lagi.
“Sebelum saat itu tiba jika mama mau mengadopsi anak agar tidak kesepian, bagiku tidak apa-apa Ma… dia boleh tidur di kamarku dan bermain dengan mainanku.”
“Tetapi jika mama memungut anak perempuan, mungkin dia tidak melakukan hal-hal yang dilakukan oleh kami, anak laki-laki.
“Mama harus membelikannya boneka dan barang-barang yang diperlukan oleh anak perempuan.
“Jangan sedih karena memikirkan aku Ma.”
“Tempat aku berada sekarang begitu indah.”
“Kakek dan nenek sudah menemuiku begitu aku sampai di sana dan mereka menunjukkan tempat-tempat yang indah. Tapi perlu waktu lama untuk melihat segalanya di sana.”
“Malaikat itu sangat pendiam dan tampak dingin. Tapi saya senang melihatnya terbang.”
“Tebak Ma apa yang terjadi? Aku boleh duduk di pangkuan Tuhan dan berbicara dengannya seolah-olah aku ini orang yang sangat penting.”
“Aku menceritakan kepada Tuhan, bahwa aku ingin menulis surat kepada Mama untuk mengucapkan selamat tinggal dan kata-kataku yang lain.”
“Namun aku sadar bahwa hal ini pasti tidak diperbolehkannya. Tapi Mama tahu, Tuhan sendiri memberikan sehelai kertas dan pensil-Nya untuk menulis surat ini kepada Mama tercinta.”
“Saya pikir malaikat akan mengirimkan surat ini kepadamu Ma.”
“Tuhan berkata akan menjawab pertanyaan Mama ketika Mama bertanya, “Dimana Tuhan pada saat aku membutuhkannya?” Tuhan mengatakan dia berada bersama diriku.”
“Dia ada disana Ma, dan Dia selalu berada bersama semua anak. Ngomong-ngomong tidak ada orang yang dapat membaca apa yang aku tulis selain Mama sendiri.”
“Bagi orang lin, surat ini hanya merupakan sehelai kertas kosong. Luar biasa kan Ma?”
“Sekarang saya harus mengembalikan pensil yang aku pinjam, Tuhan memerlukan pensil ini intuk menuluskan nama-nama dalam buku kehidupan.”
“Oh, aku hamper lupa memberitahukanmu Ma.”
“Aku sudah tidak kesakitan lagi, penyakit itu sudah hilang.”
“Aku senang karena aku tidak tahan merasakan saakit itu dan Tuhan juga tidak tahan melihat aku kesakitan. Itulah sebabnya mengapa Dia mengirimkan malaikat untuk menjemputku.”
“Malaikat itu mengatakan bahwa diriku merupakan kiriman istimewa. Bagaimana Ma?”
Salam kasih, selaalu dari Tuhan & aku
Menyentuh! Demikian kisah Sela, buat mama-mama di seliruh dunia yng pernah merasakan kehilangan orang terkasih… hapuslah air mata itu dn gantilah dengan senyuman.
Sebenarnya kita tak pernah benar-benar kehilangan seseorang… karena semua yang kita miliki bukanah milik kita sejatinya, hanya titipan-Nya semata.
Semua orang punya cerita. Semua akan indah pada waaktunya, ada waktu untuk berduka pasti ada waktu untuk bersuka. Ada waktu untuk berpisah pasti ada waktu diketemukan lagi di Surga.
Zettu

Tuesday, 24 November 2015

Santri Modus Salah Kamar



Santri Modus Salah Kamar

Sore itu, di tengah hujan lebat dengan suara gemuruh geluduk yang merisaukan hati, q besama temanku berteduh di depan toko bangunan yang sudah tutup. temanku bekata: “Hari ini kita apes banget hud, udah kalender kita gak terjual, sekarang malah keujanan. Apes……Apes”. Di tengah-tengah keluhan temanku yang terus berdenging di telingaku tiba-tiba, “Crrroo…….t…air genangan hujan mengguyur seluruh tubuh kami.
“jan(tit……), mobil kurang ajar, numpak banter ra kiro-kiro”
“Sabar jo, sabar” (kataku pada tarjo)
Tak lama kemudian sesosok cewek mungil nan cntik dengan pakaian setengah basah datang ketempat kami berdua berteduh.
“Hud… hud…”(suara tarjo sayup-sayup terdengar di telingaku)
“Crrroootttt genangan air di jalan kembali menyiram badanku yang sudah semakin kedinginan”
“Jo, kok gak ngandani aku lek enek mobil banter liwat. Delengen, aku kembloh ilo…”(gerutuku pada tarjo)
“hahahahahaha, awakmu ce… deleng cewe pisan wae wes terkiyer-kiyer” (tawa tarjo yang membuatku semakin kesal)
Hujan turun semakin deras, tapi suasana di depan toko bangunan itu terasa semakin sunyi, karna tak ada pembicaraan diantara kami bertiga.
“tit…..” (suara kentut memecah keheningan)
Aku memandang tarjo dengan penuh kecurigaan. “ uduk aku hud, sumpah….”
Kami berdua menolehkan pandangan pada cewe yang berada di sebelah kami. Dia tertunduk malu tak sanggup berkata apa-apa.
“uwes jo, gak usah su’udzon. Mungkin areke masuk angin kenek angin hujan”
Di balik wajahnya yang polos ternyata dia juga bisa kelepasan kentut. hehe
Tanpa terasaa hujanpun telah reda. Kami segera beranjak dari tempat kami berteduh dan pergi melanjutkan menjual kalender. Si imro’ah itupun juga ikut pergi. Eh…… bener-bener rejeki, imro’ah itu ternyata satu arah dengan kami. Karna rasa penasaranku dan ketidak beranianku untuk brkenalan dengannya, akhirnya kami ikuti ia sampai kerumahnya. Sesampainya di depan rumahnya kami berhenti sejenak.
Tarjo; hud, ayo mamper…
Aku (huda): isin aku jo..
Tarjo: walah….. jare penasaran, pumpung adewe gowo tanggalan iki. (fikiran moduspun mulai muncul)
Aku (huda): hehehe J, iyo yo jo. Zo wes, ayo mamper.
Setelah perbincangan itu kami akhirnya memutuskan untuk mampir ke rumah cewek yang kami ikuti dari tadi. Sebenarnya dalam hatiku masih ada keraguan “mampir ndak ya?”, tapi di sisi lain hatiku juga berkata “ayo mampir, jarang-jarang ada kesempatan kaya gini”. Di tengah-tengah keraguanku, ku yakinkan hati, ku kuatkan tekat, maju……!!!
“Tok…tok…tok… assalamualaikum…..”
Kami mengetok pintu dan mengucapkan salam…
Tak lama kemudian terdengar suara lembut menyahut salam kami.
“wa alaikum salam……”
“Wah…… itu pasti suara cewe tadi jo” (kataku pada tarjo dengan hati gembira)
Kreett…. Suara pintu di buka. La………ternyat yang membuka pintu seorang perempuan yang sudah paruh baya. Kami kaget, kami tak menyangka ternyata suara lembut tadi adalah suara perempuan ini.
“Mungkin ini ibunya hud, tapi masih cantik lo…..” (kata tarjo)
“hus, jaga omonganmu jo, itu istri orang”
Si ibu terdiam sejenak memperhatikan kami, kemudian bekata:
Si ibu: wa alaikum salam, ada perlu apa ya…?
Huda: maaf ibu, ayahnya ada?
Si ibu: hm…iya ada, sebentar ya, mari silahkan masuk.
Tak lama setelah kami masuk, seorang laki-laki berjenggot dan perparas tinggi besar keluar.
Ehhhh………… ternyata itu ustadz Zulkarnain. Kami tercengang kaget,
Huda: wah jo gawat, ..
Dengan santainya tarjo menjawab “nyapo to hud…..? bukane iki wes nek umahe cewe idamanmu….!”
Huda: izo jo, tapi delengen copo iku seng ono nak ngarepmu….! (dengan wajah yang di penuhi oleh kepanikan aku menabok-nabok pundak tarjo)
Tarjopun melirik sedikit. “udah hud langsung kabur aja yu’…”
Semua niatan kami jadi kacau balau, Yang tadinya mau jual kalender gagal karena godaan syaiton untuk mengejar imro’ah, yang tadinya mau ngejar imro’ah mau kenalan tak jadi karena kami sudah kalah title. Dia anak dari seorang ustadz, sedangkan kami…?
Kalender tak jadi terjual, imro’ah juga tak dapat. Tapi Alhamdulillah dapat ceramah dari ustad Dzulkarnain…….hehe
Sekian dari kami, semoga cerpennya menghibur. Terimakasih. :-)

Sunday, 22 November 2015

Mentari Yang Belum Bisa Bersinar



Mentari Yang Belum Bisa Bersinar



Cerpen Karangan: Putri Hafidz
Lolos moderasi pada: 10 November 2015
Tuhan Maha Kuasa, sadarkah kita? semua yang diberikannya adalah benar yang terbaik untuk kita. Perlahan mulai ku sadari itu. Banyak sekali pikiran yang berkecamuk di benakku belakangan ini. Tidak hanya UN yang makin mendekat yang membuat cemas bukan kepalang para murid SMA tahun ajaran 2011-2012 ini. Seprtinya bukan, ya bukan hal itu yang membuat pikiranku kacau.
“Mentari, mulai sekarang kita akan memulai hidup yang berbeda, semua akan berbeda dengan yang dulu. Bila roda berputar maka kita saat ini sedang ada di posisi bawah. Ibu tak tahu apa sebenarnya yang terjadi. Maafin Ibu ya Mentari”
Perkataan Ibu tadi malam membuatku memaksaku diam dalam lamunan untuk waktu yang cukup lama. Sambil ku letakkan dagu di atas tangan yang membentuk siku yang ku tempelkan di meja. Suasana kelas yang begitu hening akibat mata pelajaran yang semakin siang semakin membosankan, para murid menambah kekuatan sepiritual untukku lanjutkan memelihara ketakutan ini.
“Teng.. teng.. teng..” suara itu menyeruak memaksa masuk ke dalam sela-sela daun telingaku. Membuat halusinasi ketakutanku akan hal yang Ibu bicarakan tadi malam semua lenyap. Ya, itu suara bel pulang sekolah, yang akan terus bersuara setiap hari kecuali hari libur yang menandakan tibalah saatnya kita para murid bergegas untuk segera pulang. Ditemani angin yang tengah asyik menari-menari yang kemudian menyapu daun-daun hingga berterbangan. Ku langkahkan kaki beranjak meninggalkan kelasku, menuju pintu gerbang yang ada di sebelah barat kelasku. Pintu gerbang yang perlahan mulai sedikit berkarat dan catnya yang semakin memudar dan terkelupas, terlihat semakin usang karena sering terhempas derasnya air hujan dan panasnya sinar matahari setiap hari.
Angin yang berhembus dengan kencang membuat sehelai daun jatuh dan menempel di sela rambutku. Ku hentikan langkahku sesaat setelah daun itu mendarat tepat di bagian belakang kepalaku. Lalu ku ambil daun yang sudah menguning itu. Ya memang agak susah ku ambil dari rambutku. Mungkin karena angin itu juga yang membuat debu-debu berterbangan menerpa rambutku sehingga menjadi kusut. Setelah ku amati ini adalah daun dari pohon ceri di halaman parkir sekolah. Daun yang berterbangan ini seakan membawaku ada di tengah-tengah hamparan pohon sakura yang indah. Membuat aku seperti ada di musim semi di jepang. Aku menggengam daun itu, entah akan ku apakan.
“Mentari, ngapain kamu bengong sambil lihatin daun itu?” Suara itu terdengar sayup dari arah belakang, dengan nada yang sedikit bingung. Ternyata suara itu adalah suara teman sebangkuku, dia biasa ku panggil Lisa.
“oh nggak kok eng.. enggak apa-apa lagi iseng aja” jawabku agak gagap sambil sedikit memaksa tersenyum.
“bener kamu gak apa-apa?” sambungnya heran.
“iya bener aku gak apa-apa lis.”
“ya udah yuk pulang, angkotnya udah nungguin kita tuh di depan!” ajaknya sambil memegang tanganku.
“kamu duluan aja lis aku nanti naik di depan gang aja” tolakku sambil melepaskan genggaman tangannya.
“bener nih gak apa-apa aku duluan?” sambungnya, meyakinkanku.
“iya bener gak apa-apa ko lis.”
“ya udah aku duluan ya Mentari.” sambil mengangkat tangan kanannya, kemudian setengah berlari menuju angkot yang dari tadi memang sudah menunggunya di depan.
Aku berlanjut meneruskan langkah. Aku menolak ajakan Lisa. Mungkin aku ngin ketenangan yang lebih. Entahlah, aku merasa itu lebih baik.
Hari ini langit berwarna pucat keabuan. Mentari mungkin sedang tak bersemangat hari ini. Ia terus menutupi wajahnya di balik awan-awan yang ada di sekelilingnya. Sama seperti keadaan hatiku saat ini entah perasaan apa yang hijrah di pikiranku, mungkin aku belum siap dengan semua ini. Sekarang aku seperti kehilangan arah, lupa apa yang aku cari. Tapi semestinya aku tak seperti ini. Aku tak boleh larut dalam keputusasaan. Patutku contoh sang surya itu. Sepertinya ia tak pernah lupa apa yang menjadi tugasnya. Ia tetap berusaha memberikan sinar terbaiknya untuk dunia.
Mungkin itu alasannya kedua orangtuaku memberikan nama itu untukku, putri Mentari. Ya mereka berharap aku menjadi Mentari yang berguna untuk orang lain, terutama untuk keluarga khususnya diriku sendiri. Tapi apa aku bisa menjadi Mentari seperti itu? Mentari yang selalu memberikan sinar kehangatan untuk semua mahluk yang ada di bumi ini. Tapi untuk saat ini aku belum bisa sepertinya. Aku belum bisa bersinar aku belum bisa berguna untuk orang lain terutama keluargaku.
“Neng gak naik angkot dari sini?” tanya abang supir angkot yang biasa mengantarkanku pulang.
“Oh enggak bang aku naik dari depan aja nanti.” jawabku sambil menghentikan langkahku sejenak.
“Kenapa atuh neng, tumben naik dari depan?”
“Gak apa-apa bang, aku lagi kepengen jalan kaki aja”
“Oh gitu ya sudah hati-hati neng” jawabnya setengah bingung sambil menurunkan alis dan kerutan di dahinya.
Letak sekolahku yang memang agak menjorok ke dalam gang. Kurang lebih 1 km dari jalan raya, sehingga kami para murid yang tidak menggunakan kendaraan pribadi harus berjalan kaki sampai depan gang. Terkadang ada beberapa angkot di depan pagar sekolah menunggu para murid, hal itu membantu kami agar tidak terlalu jauh berjalan kaki. Tapi hari ini aku ingin berjalan kaki saja, membiarkan angkot-angkot itu terisi oleh murid yang lain.
Ya Tuhan hamba tahu semua ini berasal darimu dan hanya darimu pun hamba diberikan jalan keluar, kuatkan hati kami jangan biarkan hati ini terlalu dalam untuk mengeluh kepadamu. Hamba bersyukur ya Tuhan, hamba diberkahi orang-orang yang begitu kuat di sekitar hamba. Ayah dan Ibu, ya mereka adalah tempat hamba bersandar ketika badan ini terasa lelah. Tempat hamba berkeluh kesah selama napas ini berhembus. Dan adik-adikku, ya mereka adalah alasanku untuk terus tersenyum. Mereka adalah energi tersendiri untuk tubuh ini tetap kokoh.
Lama dalam lamunan membuatku tak sadar, telah sampai di ujung gang. Aku langsung menyeberang jalan dan menaiki angkot yang mengarah ke pasar. Ku putuskan untuk main ke rumah tante hari ini. Untuk sampai di rumah tante, aku harus 2 kali menaiki angkot. Dalam perjalanan aku hanya duduk terdiam, menerawang kosong ke arah jalan. Tak peduli pada sekitar. Sesampainya di pasar aku menyambung angkot. Karena rumah tanteku yang lumayan jauh, biasanya akulah penumpang terakhir di angkot, maka aku mengambil duduk di pojok, memudahkan penumpang lain untuk naik dan turun dari angkot. Aku tiap hari menaiki angkot.
Aku bahkan hafal dengan wajah supir-supir angkotnya, ya walaupun tak mengenal semua nama mereka. Setelah angkot berjalan cukup jauh, di dalam angkot hanya menyisakan beberapa penumpang.
“Kok, sekarang turunnya beda neng, biasanya di gang jambu?” tak hanya aku ternyata mereka juga hafal penumpang langganan mereka.
“Iya pak, sekarang pulangnya ke rumah tante.”
“Lagi ngambek ya neng sama Ibu?” tanyanya meledekku.
Aku terkekeh mendengar perkataan supir itu, ada-ada saja. “Bukan pak, lagi nginep aja di sana.”
Aku kemudian sadar, mungkin ini tawa pertamaku hari ini. Akhirnya kami sampai di gang masjid, aku turun dan membayar ongkosnya. Kemudian, tak lupa aku pun berterima kasih dan tersenyum kepada supir itu.
“Terima kasih, pak!”
Bukan hanya karena ia telah mengantar penumpangnya selamat tapi juga karena ia telah membuatku tertawa hari ini. Bukankah seharusnya aku tersenyum, untuk keluargaku, untuk Ibu dan Ayahku. Terlebih untuk Ibuku. Aku harus menguatkan hatinya, agar Ibu tak merasa sendiri, Ibu punya kami. Anak-anaknya yang sepatut ia banggakan. Mungkin ini doa orangtuaku saat ku terlahir Putri Mentari, Ibu ingin aku menjadi perempuan yang gigih dan memberi kekuatan juga kehangatan khususnya untuk keluargaku. Bukan saja saat hatiku bergembira, aku juga harus bisa menerangi keluargaku bahkan di saat gelap sekalipun.
The End
Cerpen Karangan: Putri Hafidz
Blog: www.angkarest.blogspot.com
Facebook: Putri Hafidz

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di CerpenSantriGaul!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Motivasi