Mentari Yang Belum Bisa Bersinar
Cerpen Karangan: Putri Hafidz
Lolos moderasi pada: 10 November 2015
Tuhan Maha Kuasa, sadarkah kita?
semua yang diberikannya adalah benar yang terbaik untuk kita. Perlahan mulai ku
sadari itu. Banyak sekali pikiran yang berkecamuk di benakku belakangan ini.
Tidak hanya UN yang makin mendekat yang membuat cemas bukan kepalang para murid
SMA tahun ajaran 2011-2012 ini. Seprtinya bukan, ya bukan hal itu yang membuat
pikiranku kacau.
“Mentari, mulai sekarang kita akan memulai hidup yang berbeda, semua akan berbeda dengan yang dulu. Bila roda berputar maka kita saat ini sedang ada di posisi bawah. Ibu tak tahu apa sebenarnya yang terjadi. Maafin Ibu ya Mentari”
“Mentari, mulai sekarang kita akan memulai hidup yang berbeda, semua akan berbeda dengan yang dulu. Bila roda berputar maka kita saat ini sedang ada di posisi bawah. Ibu tak tahu apa sebenarnya yang terjadi. Maafin Ibu ya Mentari”
Perkataan Ibu tadi malam membuatku
memaksaku diam dalam lamunan untuk waktu yang cukup lama. Sambil ku letakkan
dagu di atas tangan yang membentuk siku yang ku tempelkan di meja. Suasana
kelas yang begitu hening akibat mata pelajaran yang semakin siang semakin
membosankan, para murid menambah kekuatan sepiritual untukku lanjutkan
memelihara ketakutan ini.
“Teng.. teng.. teng..” suara itu
menyeruak memaksa masuk ke dalam sela-sela daun telingaku. Membuat halusinasi
ketakutanku akan hal yang Ibu bicarakan tadi malam semua lenyap. Ya, itu suara
bel pulang sekolah, yang akan terus bersuara setiap hari kecuali hari libur
yang menandakan tibalah saatnya kita para murid bergegas untuk segera pulang.
Ditemani angin yang tengah asyik menari-menari yang kemudian menyapu daun-daun
hingga berterbangan. Ku langkahkan kaki beranjak meninggalkan kelasku, menuju
pintu gerbang yang ada di sebelah barat kelasku. Pintu gerbang yang perlahan
mulai sedikit berkarat dan catnya yang semakin memudar dan terkelupas, terlihat
semakin usang karena sering terhempas derasnya air hujan dan panasnya sinar
matahari setiap hari.
Angin yang berhembus dengan kencang
membuat sehelai daun jatuh dan menempel di sela rambutku. Ku hentikan langkahku
sesaat setelah daun itu mendarat tepat di bagian belakang kepalaku. Lalu ku
ambil daun yang sudah menguning itu. Ya memang agak susah ku ambil dari
rambutku. Mungkin karena angin itu juga yang membuat debu-debu berterbangan
menerpa rambutku sehingga menjadi kusut. Setelah ku amati ini adalah daun dari
pohon ceri di halaman parkir sekolah. Daun yang berterbangan ini seakan
membawaku ada di tengah-tengah hamparan pohon sakura yang indah. Membuat aku
seperti ada di musim semi di jepang. Aku menggengam daun itu, entah akan ku
apakan.
“Mentari, ngapain kamu bengong
sambil lihatin daun itu?” Suara itu terdengar sayup dari arah belakang, dengan
nada yang sedikit bingung. Ternyata suara itu adalah suara teman sebangkuku,
dia biasa ku panggil Lisa.
“oh nggak kok eng.. enggak apa-apa lagi iseng aja” jawabku agak gagap sambil sedikit memaksa tersenyum.
“bener kamu gak apa-apa?” sambungnya heran.
“iya bener aku gak apa-apa lis.”
“ya udah yuk pulang, angkotnya udah nungguin kita tuh di depan!” ajaknya sambil memegang tanganku.
“kamu duluan aja lis aku nanti naik di depan gang aja” tolakku sambil melepaskan genggaman tangannya.
“bener nih gak apa-apa aku duluan?” sambungnya, meyakinkanku.
“iya bener gak apa-apa ko lis.”
“ya udah aku duluan ya Mentari.” sambil mengangkat tangan kanannya, kemudian setengah berlari menuju angkot yang dari tadi memang sudah menunggunya di depan.
Aku berlanjut meneruskan langkah. Aku menolak ajakan Lisa. Mungkin aku ngin ketenangan yang lebih. Entahlah, aku merasa itu lebih baik.
“oh nggak kok eng.. enggak apa-apa lagi iseng aja” jawabku agak gagap sambil sedikit memaksa tersenyum.
“bener kamu gak apa-apa?” sambungnya heran.
“iya bener aku gak apa-apa lis.”
“ya udah yuk pulang, angkotnya udah nungguin kita tuh di depan!” ajaknya sambil memegang tanganku.
“kamu duluan aja lis aku nanti naik di depan gang aja” tolakku sambil melepaskan genggaman tangannya.
“bener nih gak apa-apa aku duluan?” sambungnya, meyakinkanku.
“iya bener gak apa-apa ko lis.”
“ya udah aku duluan ya Mentari.” sambil mengangkat tangan kanannya, kemudian setengah berlari menuju angkot yang dari tadi memang sudah menunggunya di depan.
Aku berlanjut meneruskan langkah. Aku menolak ajakan Lisa. Mungkin aku ngin ketenangan yang lebih. Entahlah, aku merasa itu lebih baik.
Hari ini langit berwarna pucat
keabuan. Mentari mungkin sedang tak bersemangat hari ini. Ia terus menutupi
wajahnya di balik awan-awan yang ada di sekelilingnya. Sama seperti keadaan
hatiku saat ini entah perasaan apa yang hijrah di pikiranku, mungkin aku belum
siap dengan semua ini. Sekarang aku seperti kehilangan arah, lupa apa yang aku
cari. Tapi semestinya aku tak seperti ini. Aku tak boleh larut dalam
keputusasaan. Patutku contoh sang surya itu. Sepertinya ia tak pernah lupa apa
yang menjadi tugasnya. Ia tetap berusaha memberikan sinar terbaiknya untuk
dunia.
Mungkin itu alasannya kedua
orangtuaku memberikan nama itu untukku, putri Mentari. Ya mereka berharap aku
menjadi Mentari yang berguna untuk orang lain, terutama untuk keluarga
khususnya diriku sendiri. Tapi apa aku bisa menjadi Mentari seperti itu?
Mentari yang selalu memberikan sinar kehangatan untuk semua mahluk yang ada di
bumi ini. Tapi untuk saat ini aku belum bisa sepertinya. Aku belum bisa
bersinar aku belum bisa berguna untuk orang lain terutama keluargaku.
“Neng gak naik angkot dari sini?”
tanya abang supir angkot yang biasa mengantarkanku pulang.
“Oh enggak bang aku naik dari depan aja nanti.” jawabku sambil menghentikan langkahku sejenak.
“Kenapa atuh neng, tumben naik dari depan?”
“Gak apa-apa bang, aku lagi kepengen jalan kaki aja”
“Oh gitu ya sudah hati-hati neng” jawabnya setengah bingung sambil menurunkan alis dan kerutan di dahinya.
“Oh enggak bang aku naik dari depan aja nanti.” jawabku sambil menghentikan langkahku sejenak.
“Kenapa atuh neng, tumben naik dari depan?”
“Gak apa-apa bang, aku lagi kepengen jalan kaki aja”
“Oh gitu ya sudah hati-hati neng” jawabnya setengah bingung sambil menurunkan alis dan kerutan di dahinya.
Letak sekolahku yang memang agak
menjorok ke dalam gang. Kurang lebih 1 km dari jalan raya, sehingga kami para
murid yang tidak menggunakan kendaraan pribadi harus berjalan kaki sampai depan
gang. Terkadang ada beberapa angkot di depan pagar sekolah menunggu para murid,
hal itu membantu kami agar tidak terlalu jauh berjalan kaki. Tapi hari ini aku
ingin berjalan kaki saja, membiarkan angkot-angkot itu terisi oleh murid yang
lain.
Ya Tuhan hamba tahu semua ini
berasal darimu dan hanya darimu pun hamba diberikan jalan keluar, kuatkan hati
kami jangan biarkan hati ini terlalu dalam untuk mengeluh kepadamu. Hamba
bersyukur ya Tuhan, hamba diberkahi orang-orang yang begitu kuat di sekitar
hamba. Ayah dan Ibu, ya mereka adalah tempat hamba bersandar ketika badan ini
terasa lelah. Tempat hamba berkeluh kesah selama napas ini berhembus. Dan
adik-adikku, ya mereka adalah alasanku untuk terus tersenyum. Mereka adalah energi
tersendiri untuk tubuh ini tetap kokoh.
Lama dalam lamunan membuatku tak
sadar, telah sampai di ujung gang. Aku langsung menyeberang jalan dan menaiki
angkot yang mengarah ke pasar. Ku putuskan untuk main ke rumah tante hari ini.
Untuk sampai di rumah tante, aku harus 2 kali menaiki angkot. Dalam perjalanan
aku hanya duduk terdiam, menerawang kosong ke arah jalan. Tak peduli pada
sekitar. Sesampainya di pasar aku menyambung angkot. Karena rumah tanteku yang
lumayan jauh, biasanya akulah penumpang terakhir di angkot, maka aku mengambil
duduk di pojok, memudahkan penumpang lain untuk naik dan turun dari angkot. Aku
tiap hari menaiki angkot.
Aku bahkan hafal dengan wajah
supir-supir angkotnya, ya walaupun tak mengenal semua nama mereka. Setelah
angkot berjalan cukup jauh, di dalam angkot hanya menyisakan beberapa
penumpang.
“Kok, sekarang turunnya beda neng, biasanya di gang jambu?” tak hanya aku ternyata mereka juga hafal penumpang langganan mereka.
“Iya pak, sekarang pulangnya ke rumah tante.”
“Lagi ngambek ya neng sama Ibu?” tanyanya meledekku.
Aku terkekeh mendengar perkataan supir itu, ada-ada saja. “Bukan pak, lagi nginep aja di sana.”
“Kok, sekarang turunnya beda neng, biasanya di gang jambu?” tak hanya aku ternyata mereka juga hafal penumpang langganan mereka.
“Iya pak, sekarang pulangnya ke rumah tante.”
“Lagi ngambek ya neng sama Ibu?” tanyanya meledekku.
Aku terkekeh mendengar perkataan supir itu, ada-ada saja. “Bukan pak, lagi nginep aja di sana.”
Aku kemudian sadar, mungkin ini tawa
pertamaku hari ini. Akhirnya kami sampai di gang masjid, aku turun dan membayar
ongkosnya. Kemudian, tak lupa aku pun berterima kasih dan tersenyum kepada
supir itu.
“Terima kasih, pak!”
“Terima kasih, pak!”
Bukan hanya karena ia telah
mengantar penumpangnya selamat tapi juga karena ia telah membuatku tertawa hari
ini. Bukankah seharusnya aku tersenyum, untuk keluargaku, untuk Ibu dan Ayahku.
Terlebih untuk Ibuku. Aku harus menguatkan hatinya, agar Ibu tak merasa
sendiri, Ibu punya kami. Anak-anaknya yang sepatut ia banggakan. Mungkin ini
doa orangtuaku saat ku terlahir Putri Mentari, Ibu ingin aku menjadi perempuan
yang gigih dan memberi kekuatan juga kehangatan khususnya untuk keluargaku.
Bukan saja saat hatiku bergembira, aku juga harus bisa menerangi keluargaku
bahkan di saat gelap sekalipun.
The End
Cerpen Karangan: Putri Hafidz
Blog: www.angkarest.blogspot.com
Facebook: Putri Hafidz
Blog: www.angkarest.blogspot.com
Facebook: Putri Hafidz
Ini merupakan cerita pendek karangan Putri Hafidz, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: Putri Hafidz untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di CerpenSantriGaul!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Motivasi
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Motivasi

No comments:
Post a Comment