RSS

Tuesday, 24 November 2015

Santri Modus Salah Kamar



Santri Modus Salah Kamar

Sore itu, di tengah hujan lebat dengan suara gemuruh geluduk yang merisaukan hati, q besama temanku berteduh di depan toko bangunan yang sudah tutup. temanku bekata: “Hari ini kita apes banget hud, udah kalender kita gak terjual, sekarang malah keujanan. Apes……Apes”. Di tengah-tengah keluhan temanku yang terus berdenging di telingaku tiba-tiba, “Crrroo…….t…air genangan hujan mengguyur seluruh tubuh kami.
“jan(tit……), mobil kurang ajar, numpak banter ra kiro-kiro”
“Sabar jo, sabar” (kataku pada tarjo)
Tak lama kemudian sesosok cewek mungil nan cntik dengan pakaian setengah basah datang ketempat kami berdua berteduh.
“Hud… hud…”(suara tarjo sayup-sayup terdengar di telingaku)
“Crrroootttt genangan air di jalan kembali menyiram badanku yang sudah semakin kedinginan”
“Jo, kok gak ngandani aku lek enek mobil banter liwat. Delengen, aku kembloh ilo…”(gerutuku pada tarjo)
“hahahahahaha, awakmu ce… deleng cewe pisan wae wes terkiyer-kiyer” (tawa tarjo yang membuatku semakin kesal)
Hujan turun semakin deras, tapi suasana di depan toko bangunan itu terasa semakin sunyi, karna tak ada pembicaraan diantara kami bertiga.
“tit…..” (suara kentut memecah keheningan)
Aku memandang tarjo dengan penuh kecurigaan. “ uduk aku hud, sumpah….”
Kami berdua menolehkan pandangan pada cewe yang berada di sebelah kami. Dia tertunduk malu tak sanggup berkata apa-apa.
“uwes jo, gak usah su’udzon. Mungkin areke masuk angin kenek angin hujan”
Di balik wajahnya yang polos ternyata dia juga bisa kelepasan kentut. hehe
Tanpa terasaa hujanpun telah reda. Kami segera beranjak dari tempat kami berteduh dan pergi melanjutkan menjual kalender. Si imro’ah itupun juga ikut pergi. Eh…… bener-bener rejeki, imro’ah itu ternyata satu arah dengan kami. Karna rasa penasaranku dan ketidak beranianku untuk brkenalan dengannya, akhirnya kami ikuti ia sampai kerumahnya. Sesampainya di depan rumahnya kami berhenti sejenak.
Tarjo; hud, ayo mamper…
Aku (huda): isin aku jo..
Tarjo: walah….. jare penasaran, pumpung adewe gowo tanggalan iki. (fikiran moduspun mulai muncul)
Aku (huda): hehehe J, iyo yo jo. Zo wes, ayo mamper.
Setelah perbincangan itu kami akhirnya memutuskan untuk mampir ke rumah cewek yang kami ikuti dari tadi. Sebenarnya dalam hatiku masih ada keraguan “mampir ndak ya?”, tapi di sisi lain hatiku juga berkata “ayo mampir, jarang-jarang ada kesempatan kaya gini”. Di tengah-tengah keraguanku, ku yakinkan hati, ku kuatkan tekat, maju……!!!
“Tok…tok…tok… assalamualaikum…..”
Kami mengetok pintu dan mengucapkan salam…
Tak lama kemudian terdengar suara lembut menyahut salam kami.
“wa alaikum salam……”
“Wah…… itu pasti suara cewe tadi jo” (kataku pada tarjo dengan hati gembira)
Kreett…. Suara pintu di buka. La………ternyat yang membuka pintu seorang perempuan yang sudah paruh baya. Kami kaget, kami tak menyangka ternyata suara lembut tadi adalah suara perempuan ini.
“Mungkin ini ibunya hud, tapi masih cantik lo…..” (kata tarjo)
“hus, jaga omonganmu jo, itu istri orang”
Si ibu terdiam sejenak memperhatikan kami, kemudian bekata:
Si ibu: wa alaikum salam, ada perlu apa ya…?
Huda: maaf ibu, ayahnya ada?
Si ibu: hm…iya ada, sebentar ya, mari silahkan masuk.
Tak lama setelah kami masuk, seorang laki-laki berjenggot dan perparas tinggi besar keluar.
Ehhhh………… ternyata itu ustadz Zulkarnain. Kami tercengang kaget,
Huda: wah jo gawat, ..
Dengan santainya tarjo menjawab “nyapo to hud…..? bukane iki wes nek umahe cewe idamanmu….!”
Huda: izo jo, tapi delengen copo iku seng ono nak ngarepmu….! (dengan wajah yang di penuhi oleh kepanikan aku menabok-nabok pundak tarjo)
Tarjopun melirik sedikit. “udah hud langsung kabur aja yu’…”
Semua niatan kami jadi kacau balau, Yang tadinya mau jual kalender gagal karena godaan syaiton untuk mengejar imro’ah, yang tadinya mau ngejar imro’ah mau kenalan tak jadi karena kami sudah kalah title. Dia anak dari seorang ustadz, sedangkan kami…?
Kalender tak jadi terjual, imro’ah juga tak dapat. Tapi Alhamdulillah dapat ceramah dari ustad Dzulkarnain…….hehe
Sekian dari kami, semoga cerpennya menghibur. Terimakasih. :-)

No comments:

Post a Comment