RSS

Wednesday, 25 November 2015

Surat Dari Surga



SURAT DARI SURGA

Ini adalah kisah tentang seorang anak yang bernama Sela yang meninggal karena menderita kanker, dn ibunya bernama Wina. Ia bersedih dan bertanya-tanya…
“kenapa Tuhan mengambil anaknya? Kemana tuhan membiarkan anaknya meninggal?” sampai akhirnya Bu Wina mendapat sepucuk surat dari surge dan Tuhan menjawab pertanyaannya.
Bu Wina segera bangun ketika dokter bedah keluar dari kamar operasi. Dia bertanya dengan penuh harapan, “Bagaimana anakku, apakah dia dapat disembuhkan?”
Dokter bedah menjawab, “Saya sudah berusaha sebaik mungkin, tapi sayangnya anak ibu sudah tidak tertolong.”
Bu Wina bertnya dengan hati remuk dan sakit, “Mengapa anakku yang tidak berdosa bisa terkena kanker? Apa Tuhan sudah tidak peduli lagi? Dimana Engkau Tuhan ketika anak laki-lakiku membutuhkanmu?”.
Dokter bedah bertanya, “Apa ibu ingin bersama anak ibu selama beberapa waktu? Perawat akan kelaur untuk beberapa menit sebelum jenazahnya dibawa ke universitas.”
Bu Wina meminta oerawat tinggal bersamanya saat dia akan mengucapkan selamat jalan kepada anak lelakinya. Lalu dengan penuh kasih dia mengusap rambut anaknya yang hitam itu.
“Apa ibu ingin menyimpan sedikit rambutnya sebagai kenangan?” perawat itu bertanya.
Bu Wina mengangguk. Kemudian perawat memotong sedikit rambut dan menaruhnya di dalam kantong plastic untuk disimpan.
Ibu Wina berkata, “Sela anakku ingin mendonorkn tubuhnya untuk diteliti di Universitas. Dia mengatakan mungkin dengan cara ini dia dapat menolong orang lain yang memerlukan.”
“Awalnya saya tidak memperbolehkan, tapi Sela manjawab… Ma, saya kan sudah tidak membutuhkan tubuh ini setelah mati nanti. Mungkin tubihku dapat membantu anak lain untuk bisa hidup lebih lama dengan ibunya.”
Bu Wina terus bercerita, “Anakku itu memiliki hati emas, Sela selalu memikirkan orang lain. Selalu ingin membantu orang lain selama dia bisa melakukannya.”
Bu Wina meninggalkan rumah sakit setelah menghabiskan waktunya selama 6 bulan di sana untuk merawat Sela.
Dia membawa kantong yang berisi barang-barang anaknya. Parjalanan pulang sungguh sulit baginya. Lebih sulit lagi ketika dia memasuki rumah yang terasa kosong.
Barabg-barang Sela ditaruhnya bersama kantong-kantong plastic yang berisi segenggam ranbut itu di adalam kamar anak lelakinya.
Dia meletakkan mobil mainan dan barang-barang milik pribadi Sela, di tempat Sela biasa menyimpan barang-barang itu.
Kemudian dia membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Dengan membenamkan wajahnya pada bantal, dia menangis hingga tertidur.
Di sekitar tengah malam, Bu Wina terjaga. Di samping bantalnya terdapat surat yang terlipat. Surat itu berbunyi:
“Mama tercinta, saya tahu mama akan kehilangan saya… tetapi saya akan selalu mengingatmu ma.. dan tidk akan berhenti mencintaimu walaupun saya sudah tidak bisa mengatakan
“AKU SAYANG MAMA”
“Saya selalu mencintaimu bahkan semakin hari akan semakin saying padamu ma. Sampai sutu saat kita akan bertemu lagi.
“Sebelum saat itu tiba jika mama mau mengadopsi anak agar tidak kesepian, bagiku tidak apa-apa Ma… dia boleh tidur di kamarku dan bermain dengan mainanku.”
“Tetapi jika mama memungut anak perempuan, mungkin dia tidak melakukan hal-hal yang dilakukan oleh kami, anak laki-laki.
“Mama harus membelikannya boneka dan barang-barang yang diperlukan oleh anak perempuan.
“Jangan sedih karena memikirkan aku Ma.”
“Tempat aku berada sekarang begitu indah.”
“Kakek dan nenek sudah menemuiku begitu aku sampai di sana dan mereka menunjukkan tempat-tempat yang indah. Tapi perlu waktu lama untuk melihat segalanya di sana.”
“Malaikat itu sangat pendiam dan tampak dingin. Tapi saya senang melihatnya terbang.”
“Tebak Ma apa yang terjadi? Aku boleh duduk di pangkuan Tuhan dan berbicara dengannya seolah-olah aku ini orang yang sangat penting.”
“Aku menceritakan kepada Tuhan, bahwa aku ingin menulis surat kepada Mama untuk mengucapkan selamat tinggal dan kata-kataku yang lain.”
“Namun aku sadar bahwa hal ini pasti tidak diperbolehkannya. Tapi Mama tahu, Tuhan sendiri memberikan sehelai kertas dan pensil-Nya untuk menulis surat ini kepada Mama tercinta.”
“Saya pikir malaikat akan mengirimkan surat ini kepadamu Ma.”
“Tuhan berkata akan menjawab pertanyaan Mama ketika Mama bertanya, “Dimana Tuhan pada saat aku membutuhkannya?” Tuhan mengatakan dia berada bersama diriku.”
“Dia ada disana Ma, dan Dia selalu berada bersama semua anak. Ngomong-ngomong tidak ada orang yang dapat membaca apa yang aku tulis selain Mama sendiri.”
“Bagi orang lin, surat ini hanya merupakan sehelai kertas kosong. Luar biasa kan Ma?”
“Sekarang saya harus mengembalikan pensil yang aku pinjam, Tuhan memerlukan pensil ini intuk menuluskan nama-nama dalam buku kehidupan.”
“Oh, aku hamper lupa memberitahukanmu Ma.”
“Aku sudah tidak kesakitan lagi, penyakit itu sudah hilang.”
“Aku senang karena aku tidak tahan merasakan saakit itu dan Tuhan juga tidak tahan melihat aku kesakitan. Itulah sebabnya mengapa Dia mengirimkan malaikat untuk menjemputku.”
“Malaikat itu mengatakan bahwa diriku merupakan kiriman istimewa. Bagaimana Ma?”
Salam kasih, selaalu dari Tuhan & aku
Menyentuh! Demikian kisah Sela, buat mama-mama di seliruh dunia yng pernah merasakan kehilangan orang terkasih… hapuslah air mata itu dn gantilah dengan senyuman.
Sebenarnya kita tak pernah benar-benar kehilangan seseorang… karena semua yang kita miliki bukanah milik kita sejatinya, hanya titipan-Nya semata.
Semua orang punya cerita. Semua akan indah pada waaktunya, ada waktu untuk berduka pasti ada waktu untuk bersuka. Ada waktu untuk berpisah pasti ada waktu diketemukan lagi di Surga.
Zettu

Tuesday, 24 November 2015

Santri Modus Salah Kamar



Santri Modus Salah Kamar

Sore itu, di tengah hujan lebat dengan suara gemuruh geluduk yang merisaukan hati, q besama temanku berteduh di depan toko bangunan yang sudah tutup. temanku bekata: “Hari ini kita apes banget hud, udah kalender kita gak terjual, sekarang malah keujanan. Apes……Apes”. Di tengah-tengah keluhan temanku yang terus berdenging di telingaku tiba-tiba, “Crrroo…….t…air genangan hujan mengguyur seluruh tubuh kami.
“jan(tit……), mobil kurang ajar, numpak banter ra kiro-kiro”
“Sabar jo, sabar” (kataku pada tarjo)
Tak lama kemudian sesosok cewek mungil nan cntik dengan pakaian setengah basah datang ketempat kami berdua berteduh.
“Hud… hud…”(suara tarjo sayup-sayup terdengar di telingaku)
“Crrroootttt genangan air di jalan kembali menyiram badanku yang sudah semakin kedinginan”
“Jo, kok gak ngandani aku lek enek mobil banter liwat. Delengen, aku kembloh ilo…”(gerutuku pada tarjo)
“hahahahahaha, awakmu ce… deleng cewe pisan wae wes terkiyer-kiyer” (tawa tarjo yang membuatku semakin kesal)
Hujan turun semakin deras, tapi suasana di depan toko bangunan itu terasa semakin sunyi, karna tak ada pembicaraan diantara kami bertiga.
“tit…..” (suara kentut memecah keheningan)
Aku memandang tarjo dengan penuh kecurigaan. “ uduk aku hud, sumpah….”
Kami berdua menolehkan pandangan pada cewe yang berada di sebelah kami. Dia tertunduk malu tak sanggup berkata apa-apa.
“uwes jo, gak usah su’udzon. Mungkin areke masuk angin kenek angin hujan”
Di balik wajahnya yang polos ternyata dia juga bisa kelepasan kentut. hehe
Tanpa terasaa hujanpun telah reda. Kami segera beranjak dari tempat kami berteduh dan pergi melanjutkan menjual kalender. Si imro’ah itupun juga ikut pergi. Eh…… bener-bener rejeki, imro’ah itu ternyata satu arah dengan kami. Karna rasa penasaranku dan ketidak beranianku untuk brkenalan dengannya, akhirnya kami ikuti ia sampai kerumahnya. Sesampainya di depan rumahnya kami berhenti sejenak.
Tarjo; hud, ayo mamper…
Aku (huda): isin aku jo..
Tarjo: walah….. jare penasaran, pumpung adewe gowo tanggalan iki. (fikiran moduspun mulai muncul)
Aku (huda): hehehe J, iyo yo jo. Zo wes, ayo mamper.
Setelah perbincangan itu kami akhirnya memutuskan untuk mampir ke rumah cewek yang kami ikuti dari tadi. Sebenarnya dalam hatiku masih ada keraguan “mampir ndak ya?”, tapi di sisi lain hatiku juga berkata “ayo mampir, jarang-jarang ada kesempatan kaya gini”. Di tengah-tengah keraguanku, ku yakinkan hati, ku kuatkan tekat, maju……!!!
“Tok…tok…tok… assalamualaikum…..”
Kami mengetok pintu dan mengucapkan salam…
Tak lama kemudian terdengar suara lembut menyahut salam kami.
“wa alaikum salam……”
“Wah…… itu pasti suara cewe tadi jo” (kataku pada tarjo dengan hati gembira)
Kreett…. Suara pintu di buka. La………ternyat yang membuka pintu seorang perempuan yang sudah paruh baya. Kami kaget, kami tak menyangka ternyata suara lembut tadi adalah suara perempuan ini.
“Mungkin ini ibunya hud, tapi masih cantik lo…..” (kata tarjo)
“hus, jaga omonganmu jo, itu istri orang”
Si ibu terdiam sejenak memperhatikan kami, kemudian bekata:
Si ibu: wa alaikum salam, ada perlu apa ya…?
Huda: maaf ibu, ayahnya ada?
Si ibu: hm…iya ada, sebentar ya, mari silahkan masuk.
Tak lama setelah kami masuk, seorang laki-laki berjenggot dan perparas tinggi besar keluar.
Ehhhh………… ternyata itu ustadz Zulkarnain. Kami tercengang kaget,
Huda: wah jo gawat, ..
Dengan santainya tarjo menjawab “nyapo to hud…..? bukane iki wes nek umahe cewe idamanmu….!”
Huda: izo jo, tapi delengen copo iku seng ono nak ngarepmu….! (dengan wajah yang di penuhi oleh kepanikan aku menabok-nabok pundak tarjo)
Tarjopun melirik sedikit. “udah hud langsung kabur aja yu’…”
Semua niatan kami jadi kacau balau, Yang tadinya mau jual kalender gagal karena godaan syaiton untuk mengejar imro’ah, yang tadinya mau ngejar imro’ah mau kenalan tak jadi karena kami sudah kalah title. Dia anak dari seorang ustadz, sedangkan kami…?
Kalender tak jadi terjual, imro’ah juga tak dapat. Tapi Alhamdulillah dapat ceramah dari ustad Dzulkarnain…….hehe
Sekian dari kami, semoga cerpennya menghibur. Terimakasih. :-)

Sunday, 22 November 2015

Mentari Yang Belum Bisa Bersinar



Mentari Yang Belum Bisa Bersinar



Cerpen Karangan: Putri Hafidz
Lolos moderasi pada: 10 November 2015
Tuhan Maha Kuasa, sadarkah kita? semua yang diberikannya adalah benar yang terbaik untuk kita. Perlahan mulai ku sadari itu. Banyak sekali pikiran yang berkecamuk di benakku belakangan ini. Tidak hanya UN yang makin mendekat yang membuat cemas bukan kepalang para murid SMA tahun ajaran 2011-2012 ini. Seprtinya bukan, ya bukan hal itu yang membuat pikiranku kacau.
“Mentari, mulai sekarang kita akan memulai hidup yang berbeda, semua akan berbeda dengan yang dulu. Bila roda berputar maka kita saat ini sedang ada di posisi bawah. Ibu tak tahu apa sebenarnya yang terjadi. Maafin Ibu ya Mentari”
Perkataan Ibu tadi malam membuatku memaksaku diam dalam lamunan untuk waktu yang cukup lama. Sambil ku letakkan dagu di atas tangan yang membentuk siku yang ku tempelkan di meja. Suasana kelas yang begitu hening akibat mata pelajaran yang semakin siang semakin membosankan, para murid menambah kekuatan sepiritual untukku lanjutkan memelihara ketakutan ini.
“Teng.. teng.. teng..” suara itu menyeruak memaksa masuk ke dalam sela-sela daun telingaku. Membuat halusinasi ketakutanku akan hal yang Ibu bicarakan tadi malam semua lenyap. Ya, itu suara bel pulang sekolah, yang akan terus bersuara setiap hari kecuali hari libur yang menandakan tibalah saatnya kita para murid bergegas untuk segera pulang. Ditemani angin yang tengah asyik menari-menari yang kemudian menyapu daun-daun hingga berterbangan. Ku langkahkan kaki beranjak meninggalkan kelasku, menuju pintu gerbang yang ada di sebelah barat kelasku. Pintu gerbang yang perlahan mulai sedikit berkarat dan catnya yang semakin memudar dan terkelupas, terlihat semakin usang karena sering terhempas derasnya air hujan dan panasnya sinar matahari setiap hari.
Angin yang berhembus dengan kencang membuat sehelai daun jatuh dan menempel di sela rambutku. Ku hentikan langkahku sesaat setelah daun itu mendarat tepat di bagian belakang kepalaku. Lalu ku ambil daun yang sudah menguning itu. Ya memang agak susah ku ambil dari rambutku. Mungkin karena angin itu juga yang membuat debu-debu berterbangan menerpa rambutku sehingga menjadi kusut. Setelah ku amati ini adalah daun dari pohon ceri di halaman parkir sekolah. Daun yang berterbangan ini seakan membawaku ada di tengah-tengah hamparan pohon sakura yang indah. Membuat aku seperti ada di musim semi di jepang. Aku menggengam daun itu, entah akan ku apakan.
“Mentari, ngapain kamu bengong sambil lihatin daun itu?” Suara itu terdengar sayup dari arah belakang, dengan nada yang sedikit bingung. Ternyata suara itu adalah suara teman sebangkuku, dia biasa ku panggil Lisa.
“oh nggak kok eng.. enggak apa-apa lagi iseng aja” jawabku agak gagap sambil sedikit memaksa tersenyum.
“bener kamu gak apa-apa?” sambungnya heran.
“iya bener aku gak apa-apa lis.”
“ya udah yuk pulang, angkotnya udah nungguin kita tuh di depan!” ajaknya sambil memegang tanganku.
“kamu duluan aja lis aku nanti naik di depan gang aja” tolakku sambil melepaskan genggaman tangannya.
“bener nih gak apa-apa aku duluan?” sambungnya, meyakinkanku.
“iya bener gak apa-apa ko lis.”
“ya udah aku duluan ya Mentari.” sambil mengangkat tangan kanannya, kemudian setengah berlari menuju angkot yang dari tadi memang sudah menunggunya di depan.
Aku berlanjut meneruskan langkah. Aku menolak ajakan Lisa. Mungkin aku ngin ketenangan yang lebih. Entahlah, aku merasa itu lebih baik.
Hari ini langit berwarna pucat keabuan. Mentari mungkin sedang tak bersemangat hari ini. Ia terus menutupi wajahnya di balik awan-awan yang ada di sekelilingnya. Sama seperti keadaan hatiku saat ini entah perasaan apa yang hijrah di pikiranku, mungkin aku belum siap dengan semua ini. Sekarang aku seperti kehilangan arah, lupa apa yang aku cari. Tapi semestinya aku tak seperti ini. Aku tak boleh larut dalam keputusasaan. Patutku contoh sang surya itu. Sepertinya ia tak pernah lupa apa yang menjadi tugasnya. Ia tetap berusaha memberikan sinar terbaiknya untuk dunia.
Mungkin itu alasannya kedua orangtuaku memberikan nama itu untukku, putri Mentari. Ya mereka berharap aku menjadi Mentari yang berguna untuk orang lain, terutama untuk keluarga khususnya diriku sendiri. Tapi apa aku bisa menjadi Mentari seperti itu? Mentari yang selalu memberikan sinar kehangatan untuk semua mahluk yang ada di bumi ini. Tapi untuk saat ini aku belum bisa sepertinya. Aku belum bisa bersinar aku belum bisa berguna untuk orang lain terutama keluargaku.
“Neng gak naik angkot dari sini?” tanya abang supir angkot yang biasa mengantarkanku pulang.
“Oh enggak bang aku naik dari depan aja nanti.” jawabku sambil menghentikan langkahku sejenak.
“Kenapa atuh neng, tumben naik dari depan?”
“Gak apa-apa bang, aku lagi kepengen jalan kaki aja”
“Oh gitu ya sudah hati-hati neng” jawabnya setengah bingung sambil menurunkan alis dan kerutan di dahinya.
Letak sekolahku yang memang agak menjorok ke dalam gang. Kurang lebih 1 km dari jalan raya, sehingga kami para murid yang tidak menggunakan kendaraan pribadi harus berjalan kaki sampai depan gang. Terkadang ada beberapa angkot di depan pagar sekolah menunggu para murid, hal itu membantu kami agar tidak terlalu jauh berjalan kaki. Tapi hari ini aku ingin berjalan kaki saja, membiarkan angkot-angkot itu terisi oleh murid yang lain.
Ya Tuhan hamba tahu semua ini berasal darimu dan hanya darimu pun hamba diberikan jalan keluar, kuatkan hati kami jangan biarkan hati ini terlalu dalam untuk mengeluh kepadamu. Hamba bersyukur ya Tuhan, hamba diberkahi orang-orang yang begitu kuat di sekitar hamba. Ayah dan Ibu, ya mereka adalah tempat hamba bersandar ketika badan ini terasa lelah. Tempat hamba berkeluh kesah selama napas ini berhembus. Dan adik-adikku, ya mereka adalah alasanku untuk terus tersenyum. Mereka adalah energi tersendiri untuk tubuh ini tetap kokoh.
Lama dalam lamunan membuatku tak sadar, telah sampai di ujung gang. Aku langsung menyeberang jalan dan menaiki angkot yang mengarah ke pasar. Ku putuskan untuk main ke rumah tante hari ini. Untuk sampai di rumah tante, aku harus 2 kali menaiki angkot. Dalam perjalanan aku hanya duduk terdiam, menerawang kosong ke arah jalan. Tak peduli pada sekitar. Sesampainya di pasar aku menyambung angkot. Karena rumah tanteku yang lumayan jauh, biasanya akulah penumpang terakhir di angkot, maka aku mengambil duduk di pojok, memudahkan penumpang lain untuk naik dan turun dari angkot. Aku tiap hari menaiki angkot.
Aku bahkan hafal dengan wajah supir-supir angkotnya, ya walaupun tak mengenal semua nama mereka. Setelah angkot berjalan cukup jauh, di dalam angkot hanya menyisakan beberapa penumpang.
“Kok, sekarang turunnya beda neng, biasanya di gang jambu?” tak hanya aku ternyata mereka juga hafal penumpang langganan mereka.
“Iya pak, sekarang pulangnya ke rumah tante.”
“Lagi ngambek ya neng sama Ibu?” tanyanya meledekku.
Aku terkekeh mendengar perkataan supir itu, ada-ada saja. “Bukan pak, lagi nginep aja di sana.”
Aku kemudian sadar, mungkin ini tawa pertamaku hari ini. Akhirnya kami sampai di gang masjid, aku turun dan membayar ongkosnya. Kemudian, tak lupa aku pun berterima kasih dan tersenyum kepada supir itu.
“Terima kasih, pak!”
Bukan hanya karena ia telah mengantar penumpangnya selamat tapi juga karena ia telah membuatku tertawa hari ini. Bukankah seharusnya aku tersenyum, untuk keluargaku, untuk Ibu dan Ayahku. Terlebih untuk Ibuku. Aku harus menguatkan hatinya, agar Ibu tak merasa sendiri, Ibu punya kami. Anak-anaknya yang sepatut ia banggakan. Mungkin ini doa orangtuaku saat ku terlahir Putri Mentari, Ibu ingin aku menjadi perempuan yang gigih dan memberi kekuatan juga kehangatan khususnya untuk keluargaku. Bukan saja saat hatiku bergembira, aku juga harus bisa menerangi keluargaku bahkan di saat gelap sekalipun.
The End
Cerpen Karangan: Putri Hafidz
Blog: www.angkarest.blogspot.com
Facebook: Putri Hafidz

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di CerpenSantriGaul!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Motivasi