Cinta Salah Prasangka
Dia masih terengah-engah, napasnya
bahkan belum benar betul. Terburu-buru ia datang menghampiriku, menyerahkan
selembar kertas dengan sebuah kotak kado berukuran kecil. Aku terdiam
menatapnya dalam kebingungan, tapi ia masih saja membenarkan napasnya. Dengan
langkah gontainya.
“ini, ini,” ujarnya, aku diam tak berkomentar berusaha untuk mencerna keinginannya, bahkan dalam diamku aku belum menerima barang yang ia serahkan kepadaku.
“cepat ambil ini, cepat,” ujarnya lagi meyakinkan.
“apa?” kataku.
“udah bawa dulu, ntar aku jelaskan,” tambahnya lantas berlari sekuat ia bisa, menuju ruang kelas, padahal aku lihat sejak tadi, ruang itu sudah memulai kelasnya.
“kebiasaan buruk,” ujarku lagi lirih.
“ini, ini,” ujarnya, aku diam tak berkomentar berusaha untuk mencerna keinginannya, bahkan dalam diamku aku belum menerima barang yang ia serahkan kepadaku.
“cepat ambil ini, cepat,” ujarnya lagi meyakinkan.
“apa?” kataku.
“udah bawa dulu, ntar aku jelaskan,” tambahnya lantas berlari sekuat ia bisa, menuju ruang kelas, padahal aku lihat sejak tadi, ruang itu sudah memulai kelasnya.
“kebiasaan buruk,” ujarku lagi lirih.
Aku sudah menduga, laki-laki itu, ah
bukan lebih tepatnya anak kecil itu berani sekali. Sebuah surat? kotak kado
kecil? bukankah ini artinya dia sedang melamarku? Namun perlahan dengan pasti
aku mencoba untuk membukanya, membaca tulisan romantis dalam selembar kertas
berwarna merah muda, dan bergambarkan hati. Kata-kata romantis yang ia tuliskan
sungguh membuatku geli? bukankah dia bukan seorang sosok yang romantis yang
seperti aku kenal? mana mungkin? dari mana ia mendapatkan kata-kata seperti
ini?
“I love you, I love you,”
“mungkin terlambat, tapi aku tulus,”
“terima kasih cinta, cinta yang datang dan menghamburku dalam bahagia,”
“engkau bukan pelabuhan, aku pun bukan kapal, tapi aku dan kamu adalah sebuah cinta,”
“terima semua ini, terima dengan ketulusan yang sama seperti yang aku berikan kepadaku, I love you, I love you,”
“I love you, I love you,”
“mungkin terlambat, tapi aku tulus,”
“terima kasih cinta, cinta yang datang dan menghamburku dalam bahagia,”
“engkau bukan pelabuhan, aku pun bukan kapal, tapi aku dan kamu adalah sebuah cinta,”
“terima semua ini, terima dengan ketulusan yang sama seperti yang aku berikan kepadaku, I love you, I love you,”
Hah sejenak aku benar-benar
tersentuh, tapi mungkinkah benar jika semua ini untukku. Aku buka sebuah kotak
kecil ini, ku pandangi dan ini adalah cincin, cincin indah yang pantas
dilamatkan di jari seorang perempuan. Ah aku benar-benar terkejut, benarkah Ega
memberikan kesetiaannya untukku? aku memang tak percaya, tapi ini benar-benar
ada di depanku.
Hatiku mulai berdebar lagi, rasa berdebar yang dulu sempat hilang untuknya, darahku rasanya mulai mengalir lebih deras hingga aku sendiri tak tahu dari mana arah mengalirnya. Aku tersipu, sejenak hanya bisa membolak-balikkan selembar kertas ini yang aku pegang, tapi aku hanya memandangi cincin dalam kotak ini, yang belum sempat aku sentuh.
Hatiku mulai berdebar lagi, rasa berdebar yang dulu sempat hilang untuknya, darahku rasanya mulai mengalir lebih deras hingga aku sendiri tak tahu dari mana arah mengalirnya. Aku tersipu, sejenak hanya bisa membolak-balikkan selembar kertas ini yang aku pegang, tapi aku hanya memandangi cincin dalam kotak ini, yang belum sempat aku sentuh.
“ah mana mungkin, baiknya aku tunggu
Ega,” batinku, aku membatin sembari menerawang jauh memikirkan tingkah
laki-laki kunyuk itu, benarkah? tingkahnya saja masih banyak kekanak-kanakan,
aku mendenguskan napasku, mencoba menatapnya kembali karena rasa tak percayaku
pada seseorang itu. Beberapa menit aku masih menunggu, tapi batang hidung
laki-laki itu masih belum muncul juga, harusnya saat ini kelasnya sudah usai,
dia saja telat hampir setengah jam lebih. Karena masih banyak hal yang akan aku
lakukan, aku memutuskan untuk pulang ke kos, dan ku simpan semua barang-barang
ini ke dalam tasku. Aku terdiam, bahkan hampir membisu saat melewati trotoar
kampus. Sembari memandangi orang-orang sibuk dengan setumpuk bukunya.
Namun sejenak mataku melirik ke arah
laki-laki dan perempuan yang sedang berjalan di seberang trotoar yang lain, aku
pikir mereka sepasang kekasih, ku lihat sorot mata mereka menandakan
kebahagiaan, bahkan sesekali mereka tak ragu untuk saling berpegangan tangan
satu sama lain, ah hal itu jadi mengingatkanku dengan si kunyuk, jika sedang
jalan, dia selalu memaksa untuk memegang tanganku, tapi karena aku enggan,
tingkah manjanya membuatku marah dan kadang meninggalkannya sendiri di jalanan,
lagi pula siapa yang menyuruh untuk memperlakukan aku seperti itu.
Aku tak menyukai hal-hal konyol
seperti itu, menerimanya saja sebagai kekasih sudah membuatku alergi, apalagi
untuk hal yang demikian. Namun di tengah lamunku, bayangan tentang
barang-barang yang ia berikan tadi sempat terbesit dalam benakku, ah hal itu
membuatku bosan. Namun di tengah-tengah itu, aku dengar suara motor, suara
motor yang tak asing aku dengar, ku tolehkan wajahku untuk memastikannya,
memastikan bahwa suara motor itu milik Ega.
“ayo naik,” ajaknya, seolah aku harus mengiyakan ajakannya.
“ayo naik,” ajaknya, seolah aku harus mengiyakan ajakannya.
Tas gendongku lantas ku taruh di
tengah, sebagai pembatas, takutnya ada yang membuat hormon terangsang, hehe
takut jika jatuhnya malah nambah dosa. Ya soal ini emang sulit menjelaskan,
tapi yah sudah toh setiap orang memiliki komitmen dan prinsipnya dalam hidup.
“aku lapar, makan sebentar ya,” ujarnya, rasanya ingin menolak, tapi jika aku tolak pasti banyak hal yang menimbulkan hal gak jelas, tapi ya sudahlah sembari menunggu kejelasan barang yang ia berikan tadi.
“ehm, tapi jangan lama-lama tugasku numpuk,” jawabku sekenanya.
“aku lapar, makan sebentar ya,” ujarnya, rasanya ingin menolak, tapi jika aku tolak pasti banyak hal yang menimbulkan hal gak jelas, tapi ya sudahlah sembari menunggu kejelasan barang yang ia berikan tadi.
“ehm, tapi jangan lama-lama tugasku numpuk,” jawabku sekenanya.
Aku terdiam, bukan maksudku kami
berdua saling terdiam, hanya saja tak adaa topik yang bisa kita bahas lagi di
atas motor seperti ini. Apalagi saat menunggu macetnya jalanan saat jam-jam
makan siang seperti ini, walaupun begitu aku tetap ingin memastikan kepastian
atas barang-barang yang Ega berikan kepadaku tadi. Hampir kurang lebih 20 menit
setelah menembus keramaian dan padat serta panasnya jalanan kampus ini. Aku dan
Ega tiba di sebuah warung makan sederhana dengan menu andalannya soto babat dan
sop buntut dengan harga yang masih ekonomislah asalkan jangan keseringan, cukup
buat yang namanya perbaikan gizi.
“aku pesankan ya,” ujar Ega
menawariku.
“enggak, aku nggak usah minum aja,” ujarku sembari meletakkan tumpukan buku yang aku tenteng sedari tadi.
Ega duduk di depanku, tapi ia masih saja belum memulai perbincangan yang ingin aku tuju. Aku pun begitu malas memulainya, aku biarkan saja, mana mungkin aku memulainya? ah daripada dia nyangkain aku yang kelewat gr.
“enggak, aku nggak usah minum aja,” ujarku sembari meletakkan tumpukan buku yang aku tenteng sedari tadi.
Ega duduk di depanku, tapi ia masih saja belum memulai perbincangan yang ingin aku tuju. Aku pun begitu malas memulainya, aku biarkan saja, mana mungkin aku memulainya? ah daripada dia nyangkain aku yang kelewat gr.
Tidak lama pesanan pun datang,
semangkuk soto babat dan 2 gelas es jeruk, sang pelayan tersenyum ramah, maklum
lumayan kenal, dia tak lain adalah istri si pemilik warung.
“kok cuman semangkuk? mbaknya gak makan?” tanyanya seperti biasa ramah, kepada pembelinya.
“nggak, mungkin dia lagi diet,” ujar Ega tanpa benar-benar menggubris, matanya hanya terarah di mangkuk soto babat itu.
“benar ya, mbak,” ujar sang pelayan lagi, aku hanya tersenyum, sedikit menyeringai parau.
“buruan ga, tugas numpuk jangan main-main, kebiasaan,” ujarku mulai nada emosi, mendengar pejelasan soal diet.
“kok cuman semangkuk? mbaknya gak makan?” tanyanya seperti biasa ramah, kepada pembelinya.
“nggak, mungkin dia lagi diet,” ujar Ega tanpa benar-benar menggubris, matanya hanya terarah di mangkuk soto babat itu.
“benar ya, mbak,” ujar sang pelayan lagi, aku hanya tersenyum, sedikit menyeringai parau.
“buruan ga, tugas numpuk jangan main-main, kebiasaan,” ujarku mulai nada emosi, mendengar pejelasan soal diet.
Ega lantas melahap semangkuk soto di
depannya, dan tak butuh waktu lama untuknya menghabiskan makanannya, maklum
semalam dia bilang tak makan, sedang tadi pagi tak sempat, salah siapa tak mau
menyempatkan, bukankah dia sudah dewasa, mengurus dirinya sendiri saja masih
kalang kabut, apalagi mau coba-coba melamarku, ah benar ngomong soal melamar
jadi ingat soal cincin dan kertas yang ia berikan padaku pagi tadi, tapi kenapa
ia masih diam tak menjelaskan apapun, hah lagi-lagi kunyuk satu ini pengen buat
aku naik darah aja.
Aku dan Ega masih duduk-duduk, kami
berdua masih belum beranjak, Ega bilang tak baik untuk pencernaan jika habis
makan langsung bergegas, katanya pencernaannya bisa terganggu, emm dasar anak
alay, bisa-bisanya aku jadi couplenya, membayangkannya saja sebenarnya
membuatku jijay bin eneg, tapi bagaimana lagi, meskipun dia hanya adik angkatan
tapi kegigihannya juga patut diacungi jempol, lagi pula jika dia tak diterima
pasti setiap saat dan setiap waktu dia hanya mengganggu aku, itu malah
memperburuk keadaan, soal cinta bisa diatur belakangan, kalau soal perasaanku
sendiri, rasanya aku ingin merelakan semuanya, toh perasaan siapa yang tahu,
mungkin kunyuk ini bisa membuatku lebih mengerti soal itu.
Tanpa sadar seseorang datang dan
menyambut kami seolah meledek.
“cie, lagi kencan, enak banget nih” ujarnya, ku tolehkan wajahku ke arahnya, dan benar, dia adalah Kakak kelas Ega waktu di SMA dulu, dan sekarang mereka dipertemukan lagi di salah satu oraganisasi kampus, pers jurnalis.
“apa sih kak? orang cuman makan doang, Kak Sony pengen ya,” ledek bocah ingusan ini meledek Kak Sony, ya aku dengan Kak Sony sih lumayan akrab, tapi aku jauh lebih mengenalnya sejak kita terlibat proyek beberapa bulan lalu.
“cie, lagi kencan, enak banget nih” ujarnya, ku tolehkan wajahku ke arahnya, dan benar, dia adalah Kakak kelas Ega waktu di SMA dulu, dan sekarang mereka dipertemukan lagi di salah satu oraganisasi kampus, pers jurnalis.
“apa sih kak? orang cuman makan doang, Kak Sony pengen ya,” ledek bocah ingusan ini meledek Kak Sony, ya aku dengan Kak Sony sih lumayan akrab, tapi aku jauh lebih mengenalnya sejak kita terlibat proyek beberapa bulan lalu.
“oh iya ga, mumpung kita ketemu di
sini, aku minta barang yang kemarin aku titipkan ke kamu,” ujar Kak Sony jelas
aku tahu barang yang Kak Sony maksud, firasatku benar.
“ah kotak kado dan surat?” jelas Ega lagi, seolah memberikan isyarat kepadaku.
“iya jangan bilang udah kamu gadein,” ujar Kak Sony diselingi bercanda.
“yah kalau cuman itu mending gadein orangnya deh,” ujar Ega, Ega memandangku, firasatku benar soal isyarat yang ia tujukan kepadaku, aku lantas mengambilnya di dalam tas gendongku dan memberikannya kepada Ega.
“nih kak, maaf ya, aku gak langsung ngasih ke Kakak,” ujar Ega dengan gaya selengeknya.
“ah kotak kado dan surat?” jelas Ega lagi, seolah memberikan isyarat kepadaku.
“iya jangan bilang udah kamu gadein,” ujar Kak Sony diselingi bercanda.
“yah kalau cuman itu mending gadein orangnya deh,” ujar Ega, Ega memandangku, firasatku benar soal isyarat yang ia tujukan kepadaku, aku lantas mengambilnya di dalam tas gendongku dan memberikannya kepada Ega.
“nih kak, maaf ya, aku gak langsung ngasih ke Kakak,” ujar Ega dengan gaya selengeknya.
Aku terdiam, memandang Ega
lekat-lekat, ingin rasanya aku remas-remas bocah ini, tingkahnya yang
selengekan, dan aduh yang pasti dia sebenarnya bukan tipeku sama sekali, tapi
apa boleh buat, mungkin harusnya aku “menyelam sambil minum air, kunyuk ini
menyebalkan,” ujarku gigih dalam batin.
“Hana,” ujarnya, “eh salah, Kak Hana,” tambahnya lagi meledek, “Hana sayang kamu gak ngerasa itu lamaranku kan?” tanyanya, tanpa pikir panjang.
“kalau iya,” jawabku mulai bersungut.
“hehehe maaf, nanti pas aku mau melamar kamu, aku janji aku pasti berikan yang lebih baik,” ujarnya, menggombal, ah dasar bocah, memang aku percaya, apalagi sama orang sepertinya yang isi otaknya cuman main-main doang.
“Hana,” ujarnya, “eh salah, Kak Hana,” tambahnya lagi meledek, “Hana sayang kamu gak ngerasa itu lamaranku kan?” tanyanya, tanpa pikir panjang.
“kalau iya,” jawabku mulai bersungut.
“hehehe maaf, nanti pas aku mau melamar kamu, aku janji aku pasti berikan yang lebih baik,” ujarnya, menggombal, ah dasar bocah, memang aku percaya, apalagi sama orang sepertinya yang isi otaknya cuman main-main doang.
“apanya?” jawabku pura-pura gak
ngerti, tapi ia hanya melotot tanda ia tak habis pikir denganku, hari ini
benar-benar, aku dikibuli pacar kunyukku alias adik angkatanku, lain hari gak
akan lagi, dasar bocah, senangnya mempermainkan orang, batinku. Aku
memandangnya lama-lama sengaja membuatnya gr, biar tahu rasa, gimana rasanya
gr.
“kenapa sih kok lihatin aku?”
“hah, udah ya, aku cape main-main, putus aja ya,” ujarku, dia terdiam, tak percaya terlebih lagi saat aku benar-benar beranjak dari tempat dudukku, aku tersenyum melihat ekspresinya yang masih belum beranjak dalam kebingungannya.
“kenapa sih kok lihatin aku?”
“hah, udah ya, aku cape main-main, putus aja ya,” ujarku, dia terdiam, tak percaya terlebih lagi saat aku benar-benar beranjak dari tempat dudukku, aku tersenyum melihat ekspresinya yang masih belum beranjak dalam kebingungannya.
The End

No comments:
Post a Comment