SURAT DARI
SURGA
Ini adalah kisah tentang seorang anak yang bernama Sela yang
meninggal karena menderita kanker, dn ibunya bernama Wina. Ia bersedih dan
bertanya-tanya…
“kenapa Tuhan mengambil anaknya? Kemana tuhan membiarkan anaknya
meninggal?” sampai akhirnya Bu Wina mendapat sepucuk surat dari surge dan Tuhan
menjawab pertanyaannya.
Bu Wina segera bangun ketika dokter bedah keluar dari kamar
operasi. Dia bertanya dengan penuh harapan, “Bagaimana anakku, apakah dia dapat
disembuhkan?”
Dokter bedah menjawab, “Saya sudah berusaha sebaik mungkin, tapi
sayangnya anak ibu sudah tidak tertolong.”
Bu Wina bertnya dengan hati remuk dan sakit, “Mengapa anakku yang
tidak berdosa bisa terkena kanker? Apa Tuhan sudah tidak peduli lagi? Dimana
Engkau Tuhan ketika anak laki-lakiku membutuhkanmu?”.
Dokter bedah bertanya, “Apa ibu ingin bersama anak ibu selama
beberapa waktu? Perawat akan kelaur untuk beberapa menit sebelum jenazahnya
dibawa ke universitas.”
Bu Wina meminta oerawat tinggal bersamanya saat dia akan mengucapkan
selamat jalan kepada anak lelakinya. Lalu dengan penuh kasih dia mengusap
rambut anaknya yang hitam itu.
“Apa ibu ingin menyimpan sedikit rambutnya sebagai kenangan?”
perawat itu bertanya.
Bu Wina mengangguk. Kemudian perawat memotong sedikit rambut dan
menaruhnya di dalam kantong plastic untuk disimpan.
Ibu Wina berkata, “Sela anakku ingin mendonorkn tubuhnya untuk
diteliti di Universitas. Dia mengatakan mungkin dengan cara ini dia dapat
menolong orang lain yang memerlukan.”
“Awalnya saya tidak memperbolehkan, tapi Sela manjawab… Ma, saya
kan sudah tidak membutuhkan tubuh ini setelah mati nanti. Mungkin tubihku dapat
membantu anak lain untuk bisa hidup lebih lama dengan ibunya.”
Bu Wina terus bercerita, “Anakku itu memiliki hati emas, Sela
selalu memikirkan orang lain. Selalu ingin membantu orang lain selama dia bisa
melakukannya.”
Bu Wina meninggalkan rumah sakit setelah menghabiskan waktunya
selama 6 bulan di sana untuk merawat Sela.
Dia membawa kantong yang berisi barang-barang anaknya. Parjalanan pulang
sungguh sulit baginya. Lebih sulit lagi ketika dia memasuki rumah yang terasa
kosong.
Barabg-barang Sela ditaruhnya bersama kantong-kantong plastic yang
berisi segenggam ranbut itu di adalam kamar anak lelakinya.
Dia meletakkan mobil mainan dan barang-barang milik pribadi Sela,
di tempat Sela biasa menyimpan barang-barang itu.
Kemudian dia membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Dengan membenamkan
wajahnya pada bantal, dia menangis hingga tertidur.
Di sekitar tengah malam, Bu Wina terjaga. Di samping bantalnya
terdapat surat yang terlipat. Surat itu berbunyi:
“Mama tercinta, saya tahu mama akan kehilangan saya… tetapi saya
akan selalu mengingatmu ma.. dan tidk akan berhenti mencintaimu walaupun saya
sudah tidak bisa mengatakan
“AKU
SAYANG MAMA”
“Saya selalu mencintaimu bahkan semakin hari akan semakin saying padamu
ma. Sampai sutu saat kita akan bertemu lagi.
“Sebelum saat itu tiba jika mama mau mengadopsi anak agar tidak kesepian,
bagiku tidak apa-apa Ma… dia boleh tidur di kamarku dan bermain dengan
mainanku.”
“Tetapi jika mama memungut anak perempuan, mungkin dia tidak
melakukan hal-hal yang dilakukan oleh kami, anak laki-laki.
“Mama harus membelikannya boneka dan barang-barang yang diperlukan
oleh anak perempuan.
“Jangan sedih karena memikirkan aku Ma.”
“Tempat aku berada sekarang begitu indah.”
“Kakek dan nenek sudah menemuiku begitu aku sampai di sana dan
mereka menunjukkan tempat-tempat yang indah. Tapi perlu waktu lama untuk
melihat segalanya di sana.”
“Malaikat itu sangat pendiam dan tampak dingin. Tapi saya senang
melihatnya terbang.”
“Tebak Ma apa yang terjadi? Aku boleh duduk di pangkuan Tuhan dan
berbicara dengannya seolah-olah aku ini orang yang sangat penting.”
“Aku menceritakan kepada Tuhan, bahwa aku ingin menulis surat
kepada Mama untuk mengucapkan selamat tinggal dan kata-kataku yang lain.”
“Namun aku sadar bahwa hal ini pasti tidak diperbolehkannya. Tapi Mama
tahu, Tuhan sendiri memberikan sehelai kertas dan pensil-Nya untuk menulis
surat ini kepada Mama tercinta.”
“Saya pikir malaikat akan mengirimkan surat ini kepadamu Ma.”
“Tuhan berkata akan menjawab pertanyaan Mama ketika Mama bertanya, “Dimana
Tuhan pada saat aku membutuhkannya?” Tuhan mengatakan dia berada bersama
diriku.”
“Dia ada disana Ma, dan Dia selalu berada bersama semua anak. Ngomong-ngomong
tidak ada orang yang dapat membaca apa yang aku tulis selain Mama sendiri.”
“Bagi orang lin, surat ini hanya merupakan sehelai kertas kosong. Luar
biasa kan Ma?”
“Sekarang saya harus mengembalikan pensil yang aku pinjam, Tuhan
memerlukan pensil ini intuk menuluskan nama-nama dalam buku kehidupan.”
“Oh, aku hamper lupa memberitahukanmu Ma.”
“Aku sudah tidak kesakitan lagi, penyakit itu sudah hilang.”
“Aku senang karena aku tidak tahan merasakan saakit itu dan Tuhan
juga tidak tahan melihat aku kesakitan. Itulah sebabnya mengapa Dia mengirimkan
malaikat untuk menjemputku.”
“Malaikat itu mengatakan bahwa diriku merupakan kiriman istimewa. Bagaimana
Ma?”
Salam kasih,
selaalu dari Tuhan & aku
Menyentuh! Demikian kisah Sela, buat mama-mama di seliruh dunia yng
pernah merasakan kehilangan orang terkasih… hapuslah air mata itu dn gantilah
dengan senyuman.
Sebenarnya kita tak pernah benar-benar kehilangan seseorang… karena
semua yang kita miliki bukanah milik kita sejatinya, hanya titipan-Nya semata.
Semua orang punya cerita. Semua akan indah pada waaktunya, ada
waktu untuk berduka pasti ada waktu untuk bersuka. Ada waktu untuk berpisah
pasti ada waktu diketemukan lagi di Surga.
Zettu


